Forum Rektor Indonesia (FRI) dalam beberapa waktu dekat ini akan menyelenggarakan Kovensi Kampus VI dan Temu Tahunan XII. Agenda kegiatan yang akan dilaksanakan pada 8-9 Januari 2010 tersebut, bertempat di Universitas Tanjung Pura ,kota Pontianak. Gagasan itu muncul setelah diadakan rapat pengurus FRI pada 7 November lalu di Ubaya Training Center (UTC), Kampus III Ubaya, Trawas.

Suasana pegunungan memberikan kenyamanan tersendiri bagi para peserta rapat. Dihadiri 14 orang yang terdiri dari rektor perguruan tinggi se-Indonesia, kegiatan yang bertempat di Penanggungan Conference Room tersebut juga membahas tema kegiatan, laporan hasil kelompok kerja (pokja), dan pembahasan draft  pernyataan FRI terkait situasi nasional saat ini.
Meskipun masih bersifat tentative,Namun tema yang disepakati bersama adalah ”Menegakkan Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Jati Diri dan Martabat Bangsa”. Dengan sub tema yakni nasionalisme, demokrasi, kemandirian, inovasi, kesejahteraan, dan ekonomi kerakyatan.

Menurut rektor Ubaya, Prof Drs ec Wibisono Hardjopranoto MS yang ketika itu turut hadir, rapat ini digunakan sebagai persiapan untuk Konvensi Kampus VI. Lebih lanjut ia mengatakan, tema yang diambil dalam setiap Konvensi Kampus selalu current issues. ”Hal ini sebagai bentuk respon FRI dalam mengawal jalannya pemerintahan RI selama ini,” ujar pria yang juga duduk di Dewan Pertimbangan FRI ini. Keanggotaan FRI sendiri bersifat stesel pasif.

Prof Wibi menambahkan, FRI sendiri memiliki kekuatan moral untuk kebaikan license bangsa. ”Yang pasti kita disini tanpa pamrih dalam melaksanakannya,” terangnya. Disamping itu, tampak kehadiran Ketua FRI Prof Dr Edy Suandi Hamid M Ec. Ketika ditemui usai acara, Edy yang juga menjabat rektor UII Yogyakarta ini menambahkan, keberadaan FRI sendiri bersifat kebangsaan. Hal ini diperjelas dari awal pembentukannya di era reformasi. ” Kita akan terus mengawal reformasi yang sudah dibentuk. Pastinya, terus mengontrol kebijakan yang ada,” ujarnya.

Ia melanjutkan, mengapa dipilih Ubaya sebagai tuan tumah dalam rapat kali ini, Edy mengungkapan, hal ini dikarenakan Ubaya memiliki tempat yang representatif. ” Selain itu, rektor Ubaya sekarang ini juga menjabat sebagai Dewan Pertimbangan FRI,” tambahnya. Sependapat dengan Edy, Dr Ir Suharyadi MS , Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menyatakan UTC sangat bagus dan layak ditiru oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia tanpa terkecuali. ”Suprise sekaligus bangga dengan keberadaan UTC. Langkah Ubaya untuk memiliki kampus tersebut dapat bermanfaat bagi banyak khalayak,” terang pria yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Mercubuana Jakarta ini.

Ketika ditanya mengenai agenda rapat FRI, Suharyadi menjawab, lewat kegiatan ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada pemerintah, agar terus meningkatkan kemakmuran. ”Ini sebuah perhatian khusus kita akan kebijakan pemerintah,” terangnya.

Mengenai KPK vs POLRI
FRI angkat bicara mengenai situasi nasional terkini. Berbicara tentang konflik antar lembaga penegak hukum, KPK vs POLRI, FRI mengindikasikan adanya sesuatu yang salah dalam penegakan hukum, demokrasi dan kepemimpinan nasional. Hal ini menunjukkan sinyalemen FRI setahun yang lalu tentang adanya corruptors fight-back dan mafia peradilan telah menjadi fenomena yang sulit dibantah. Hal ini sangat menprihatinkan.

Untuk itu, FRI mengajak segenap kalangan kampus, lemabaga swadaya masyarakat yang kredibel, dan siapapun yang peduli untuk memajukan bangsa, agar bersama-sama sea jernih mencari jalan keluar dari masalah yang ada. Hal ini ditekankan untuk mengawal perjalanan demokrasi bangsa yang terancam mandul dan reformasi yang berjalan tersendat dan berpotensi stagnan.(cuy/wu)