suarasurabaya.net - Yayasan Heka Leka sebuah inovasi sosial berbasis pendidikan bagi anak-anak dan remaja korban kerusuhan dan kekerasan di Ambon beberapa tahun lalu, yang diprakarsai Stanley Ferdinandus S.T., M.M., dan terus berkembang saat ini tak ubahnya keprihatinan berbuah kebahagiaan.

"Yang membahagiakan adalah karena kami melalui Yayasan Heka Leka terus menerus memberikan sarana fasilitas pendidikan bagi anak-anak atau remaja yang menjadi korban kekerasan di Ambon beberapa tahun lalu. Kami terus bekerja keras untuk membagikan kesempatan itu," terang Stanley.

Di tanah kelahirannya, Ambon, Stanley kala itu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekerasan dan kerusuhan berlangsung disana. Kekerasan dan kerusuhan yang mengakibatkan anak-anak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.

"Padahal pendidikan itu penting bagi anak-anak. Dan kerusuhan serta pertikaian di Ambon ketika itu menghilangkan kesempatan bagi kami, bagi adik-adik kami untuk dapat menikmati pendidikan. Kami melihat sendiri bagaimana kekerasan dan dampak kerusuhan di Ambon kala itu," kata Stanley.

Yayasan Heka Leka sendiri berdiri pada September 2011 lalu, dan bertujuan membangun kembali Maluku, Ambon pasca kerusuhan dan kekerasan agama dan etnis yang terjadi sejak tahun 1999 itu. "Ini masih sebagian kecil yang kami kerjakan. Ada banyak hal lain yang harus kami kerjakan untuk membangun Ambon, membangun Maluku," tambah Stanley.

Keprihatinan yang kemudian melahirkan kerja keras tanpa kenal lelah itu, di tahun 2014 lalu membuahkan award dari Joko Widodo Presiden Republik Indonesia yang menganugerahkan Inspiring Young Leader bagi Stanley Ferdinandus.

"Tentunya kami berterimakasih sekali. Tetapi bukan itu tujuan serta target kami di Yayasan Heka Leka. Justru penganugerahan award itu jadi pemicu kami untuk bekerja lebih keras lagi, demi memajukan pendidikan bagi anak-anak di Ambon, anak-anak di Maluku bahkan mungkin anak-anak di Indonesia," tegas Stanley.

Melalui jasa pariwisata yang dikembangkannya, Stanley membiayai yayasan yang memang masih membutuhkan banyak dana untuk melengkapi berbagai kebutuhan dalam kaitannya dengan pendidikan bagi anak-anak dan remaja terlantar akibat kerusuhan di Ambon itu.

Sementara itu ditemui usai kuliah umum, Prof. Ir. Joniarto Parung, MMBAT, Ph.D., Rektor Universitas Surabaya menilai apa yang dilakukan Stanley Ferdinandus sebagai anak muda cukup bermanfaat sekaligus memberikan inspirasi bagi anak muda, termasuk untuk mahasiswa.

"Tentunya kami mendorong para mahasiswa untuk tidak hanya memiliki kepekaan pada persoalan-persoalan kuliah semata, tetapi juga tanggap dan peka pada masalah-masalah sosial. Dan itu tidak harus dilakukan setelah menuntaskan perkuliahan. Justru bisa dilaksanakan saat dibangku kuliah. Kami mendorong itu," papar Joniarto Parung.

Kuliah umum Rabu (7/2/2018) menghadirkan Stanley Ferdinandus founder Yayasan Heka Leka, di kampus Ubaya, juga dihadiri mahasiswa berbagai jurusan dan dosen dilingkungan Universitas Surabaya (Ubaya).(tok/dwi)

Editor: Dwi Yuli Handayani