Leadership Club 9th Generation Pascasarjana Fakultas Bisnis dan Ekonomika mengadakan sebuah seminar dengan tema “Build Your Own E-Business, from ‘UKM’ to High-Tech Startup” pada hari Senin, 12 Juni 2017. Seminar yang diketuai oleh Christopher Tjandra ini menghadirkan pembicara Stanislaus MC Tandelilin, co-founder dan Chief Operation Officer Sale Stock. Beliau sharing mengenai kisah dan pengalamannya saat merintis Sale Stock dan memberikan kiat-kiat bagi orang yang bingung memulai startup.

Sebelum menjadi startup, awalnya Sale Stock berbentuk UKM. Perbedaan UKM dan startup yaitu UKM masih mengikuti konsep bisnis tradisional, memiliki aset yang banyak, dan juga fokus pada profit, sedangkan startup sudah mengikuti konsep digital, jumlah aset yang dimiliki juga sedikit, dan juga fokusnya lebih ke arah pertumbuhan serta kemampuan bertahan dipasar.

Beliau mengatakan ada 5 hal yang perlu dipikirkan untuk bisa menjadi enterpreuner startup sukses, yaitu mindset, unique selling point, growth hack, leverage, system. Mindset pedagang berfokus pada kesempatan, rencana jangka pendek, bekerja keras sendiri, dan mengutamakan keuntungan, sedangkan pebisnis berusaha untuk memecahkan permasalahan, rencana jangka panjang, membuat sistem, dan fokus pada aset.
 
Unique selling point berkaitan dengan apakah produk kita dapat memberikan solusi bagi permasalahan customer, apa spesialisasi dari produk kita (apakah lebih murah atau lebih cepat responnya), dan siapa yang menjadi target pasar kita. Growth hack adalah strategi untuk meningkatkan jumlah pengunjung, jumlah pembeli (conversion), retention, sampai referral, misalnya melalui FB ads dan Instagram ads. Pada poin leverage, modal yang kita punya bisa didapat dari pinjaman ataupun dari orang-orang (misalnya teman kita) yang mau berinvestasi dengan kita. Dan yang terakhir adalah system mengenai bagaimana kita bisa membuat atau memanfaatkan software untuk meminimalkan pekerjaan manual menjadi otomatis, terstruktur, dan bisa dijadikan bahan analisis.

Sale Stock menjadikan kaum remaja wanita “alay”, yang mereka sebut sista, sebagai pangsa pasar mereka. Mereka menggunakan Big Data untuk mengetahui barang apa yang paling menarik perhatian orang, misalnya model baju dipilih berdasarkan jumlah view. Bapak Stanislaus juga mengatakan penting untuk membuat media sosial sebagai sarana untuk bisa berkomunikasi dengan pelanggan. Beliau berpesan, untuk memulai startup intinya adalah dengan “just do it” karena bila hanya memikirkan konsep tetapi tidak mencoba karena takut gagal, maka semua rencana itu sia-sia.
 “Seminar ini membuka wawasan saya mengenai perkembangan dunia bisnis secara khusus bisnis startup”, ujar Mitha Novia Widjaja, salah satu mahasiswa peserta seminar.