SURABAYA – Sempat vakum dan sepi dari kegiatan, UKM catur Universitas Surabaya (Ubaya) kembali unjuk gigi. Kompetisi catur bertajuk Rapid Chess Competition diikuti 50 mahasiswa Ubaya dari beragam prodi pada Jumat (26/5) hingga kemarin (27/5).

Kompetisi dengan sistem Swiss itu mengharuskan setiap peserta menjalani tujuh babak. Seluruhnya mendapat kesempatan bermain sampai akhir karena tidak ada sistem gugur. Masing-masing peserta mendapat waktu berpikir 20 menit di setiap babak. Melalui sistem pengumpulan poin, kedudukan dalam klasemen terus diperbarui. Yang dicari adalah tiga pemain terbaik dengan poin terbanyak.

Dari sekian banyak deretan peserta, ada tiga bangku yang terpisah dengan yang lainnya. Tiga pasang peserta di bangku tersebut adalah pemimpin klasemen sementara saat memasuki babak kelima. Salah satunya Gabriella Elena. Meski berada di jajaran klasemen puncak, rupanya Gabriella tidak pernah mengikuti kompetisi catur profesional. ”Pernah sekali pas SD, tapi sekadar ikut,” kata mahasiswi teknobiomedik angkatan 2015 itu.

Surya Dewangga Putra, ketua panitia, menyatakan bahwa kompetisi tersebut bertujuan mengubah image permainan catur. ”Kami buat kompetisi yang anak muda banget dan kekinian,” ujarnya. (kik/c18/nda)

Jawa Pos, 28 Mei 2017

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/news_detail/1997/Tujuh-Babak-Catur-Sistem-Swiss.html