Dr. Harijanto Tjahjono S.Psi., M.Ed. selaku Manajer Konseling dan Pengembangan Diri Mahasiswa, Sabtu 6 Mei lalu bersama 10 mahasiswa dari seluruh fakultas di Ubaya yang hari itu sedang menjadi peserta Softskill Awareness Programs: ”Diversity Awareness Day”. Sesuai dengan judul acara, Harijanto bersama dengan LCDC (Leadership Career and Development Center) CAC Ubaya mensosialisasikan mengenai keberagaman dan bagaimana menyikapi perbedaan yang ada. Dalam karton, terpapar nama-nama suku di Indonesia, seperti Jawa, Batak, Madura, serta Tionghoa. Mahasiswa diminta untuk menuliskan stereotype yang mereka ketahui.

Harijanto mengungkapkan, ketika para ahli meneliti stereotype, ditemukan beberapa hal. “Yang pertama, kita cenderung berpikir secara kategoris sehingga stereotype selalu ada. Kedua, munculnya stereotype tidak 100% disadari. Ketiga, stereotype sulit dibantah karena selalu menemukan pembuktian”, terang Harijanto. Beliau juga memaparkan, saat memproses media massa dan sosialisasi dari lingkungan, disana tercipta proses belajar yang menghasilkan stereotype. Tak hanya stereotype; keberagaman, prejudice, dan diskriminasi juga harus disadari keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menerima materi, mahasiswa pun kembali mendapatkan penugasan, yakni menuliskan lima hal yang bisa dilakukan secara spesifik agar keberagaman dapat tercipta. Setelah menuliskan, para mahasiswa pun tak ragu untuk berdiskusi mengenai apa yang dituliskan. Harijanto pun mengungkapkan apresiasinya, “Saya lihat beberapa poin penting ditekankan oleh teman-teman, seperti berhenti menggeneralisasi, mempelajari dan menerima bahwa perbedaan itu ada, bahkan mencoba untuk berteman dengan mereka dan melihat sendiri, apakah stereotype dalam diri kita sudah benar”.

Di akhir, Harijanto pun merangkum kesimpulan terkait diskusi hari itu. Ada beberapa poin penting yang bertajuk. “The Road to Appreciating Diversity”. Sebagai langkah awal, penting untuk aware dan mengerti bias yang kita miliki terkait orang yang berbeda dengan kita, serta aware dengan hal yang bersifat diskriminatif. Selanjutnya, justru kita harus berteman dengan orang yang berbeda agar kita dapat belajar untuk menghargai perbedaan yang memang selalu ada.

Harijanto yang kesehariannya juga berperan sebagai dosen pengajar Fakultas Psikologi Ubaya mengungkapkan, “Sudah saatnya keberagaman bukan lagi menjadi konsep. Kondisi masyarakat saat ini mulai mengkhawatirkan. Seringkali, keberagaman hanya sampai pada sekedar perkataan”. Menurut Harijanto, disinilah tujuan diadakannya pelatihan mengenai keberagaman, agar kedepannya mahasiswa, khususnya yang menjadi peserta, sanggup untuk menjadi agen perubahan yang mampu memunculkan perilaku yang mencerminkan keberagaman. (liv)