Fenomena limbah plastik sudah menjadi momok bagi isu lingkungan di belahan bumi manapun. Sifatnya yang ringan, murah, dan kuat, membuat plastik seringkali dijadikan sebagai packaginguntuk berbagai macam produk, meskipun faktanya bahan plastik sangat sulit terurai. Melihat fenomena tersebut, tiga mahasiswa semester 6 Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Ubaya, Fransiska Felicia Nata, Laurent Vincentius, dan Andrew Yong berinisiatif untuk mengganti packagingberbahan plastik menjadi packagingdari kertas daur ulang yang diberi nama Bung Koes.

Ide pembuatan packagingdari kertas daur ulang ini juga terinspirasi dari kejadian sehari-hari yang dialami oleh ketiga mahasiswa tersebut. “Di setiap akhir semester, selalu ada kertas bekas yang menumpuk di rumah dan akhirnya bingung kertas-kertas ini mau diapakan. Kemudian saya berpikir bagaimana kalau sampah-sampah kertas itu dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat,” tutur Andrew. Dengan menganut prinsip recycling, sampah-sampah kertas tersebut didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih berguna. “Karena pada dasarnya kita semua tahu apa itu recycling, tapi hanya sedikit yang benar-benar melakukan hal tersebut,” tambah Andrew.

Proses pembuatannya cukup sederhana, yaitu dengan memblender kertas bekas hingga menjadi bubur kertas, kemudian direndam. Setelah direndam, bubur kertas tersebut disaring dan dicetak menggunakan cetakan dari kayu. Hasil cetakan bubur kertas dijemur, lalu dibentuk menjadi packagingyang diinginkan.

Pada perlombaan ini, mereka membuat packaginguntuk pakaian. “Packaging-nya bisa customizetergantung kebutuhan, namun untuk saat ini belum dikembangkan sebagai pembungkus makanan,” jelas Laurent. Nama Bung Koes sendiri merupakan iconsekaligus merk dari packaging tersebut. Diharapkan setelah mendengar nama “Bung Koes”, orang-orang akan langsung teringat pada bungkus (packaging) yang menganut prinsip recycling.

Atas ide tersebut, tiga mahasiswa Teknik Industri Ubaya ini berhasil meraih juara dua dalam INCREDIKTION 2017 (Industrial Creativity in Design and Knowledge Competition 2017). Perlombaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Gunadarma pada 25 April 2017 lalu, mengusung tema Desain Industri Kreatif (Produk atau Jasa) Berkaitan Dengan Bahan Baku Limbah (Green Product). Fransiska pun mengaku tidak menyangka bahwa timnya meraih juara dalam perlombaan ini. Pasalnya, mereka hanya memiliki waktu persiapan yang cukup singkat, yaitu kurang lebih dua minggu untuk mempersiapkan paperserta prototype, karena terhalang oleh UTS. Namun mahasiswi yang pernah menjuarai INDISCO 2016 ini tetap berusaha optimis dan mengerjakannya semaksimal mungkin bersama dua temannya. “Intinya sih jangan takut mencoba disetiap kesempatan yang ada, karena kesempatan tidak akan datang dua kali,” tutup Andrew mengakhiri wawancara. (frs)