Lidia Afriliani, Manajer HRD yang Hobi Snorkeling dan Dance

SUASANA showroom PT Keramik Diamond Industries terlihat sepi. Puluhan keramik terpajang di dinding. Desainnya variatif. Ada bahan properti yang bermotif batu pualam, lingkaran, dan ada pula yang bergambar bunga. Warna-warnanya pun memesona. "Motif-motif ini digemari banyak pembeli luar negeri. Coraknya memang menarik," ungkap Lidia Afriliani pekan lalu. Perempuan asli Surabaya itu datang membawa sebongkah keramik dari belakang showroom. Dia mengajak berkeliling untuk melihat produk perusahaannya.

Lidia dikenal semringah. Perempuan 31 tahun tersebut selalu murah senyum kepada pekerja maupun siapa saja di perusahaannya. Mahasiswa S-2 Hukum Universitas Surabaya (Ubaya) itu juga bersemangat menceritakan perusahaannya. Termasuk strategi mengayomi 1.300 pekerja. "Saya ini ibunya pekerja. Harus selalu tampil percaya diri," ungkap Lidia, lantas tersenyum. Tangannya mengusap coretan lipstik di pipi.

Lidia berpendapat, setiap HRD harus punya rasa kasih dan ketegasan. Gadis kelahiran 9 April 1985 tersebut punya banyak pengalaman. Banyak pula problem dengan karyawan. Mulai problem kecil sampai yang besar sekalipun. Dia selalu bisa mengatasinya. "Saya pernah diprotes. Sempat pula didemo. Namun, saya tetap menyayangi dan menghormati mereka," ujarnya.

Lidia memperlakukan karyawan di bawahnya sebagai teman. Saat marah, dia bakal langsung memanggil atau mendekatinya. Putri pasangan Yanto dan Lilik itu mengeluarkan jurus ampuhnya. Yakni, sentuhan kemesraan. "Istilahnya pendekatan," katanya, lalu disusul tawa.

Menurut Lidia, seorang perempuan yang menjabat manajer HRD rentan disepelekan. Kaum hawa dipandang lebih lemah dalam menangani pekerja. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Perempuan yang memiliki perasaan lebih lembut daripada laki-laki justru bisa lebih meluluhkan hati.

Pekerja segan karena Lidia tegas. Namun, sulung tiga bersaudara tersebut dikenal supel dan gaul. Dia aktif bersosialisasi. Rutin ber-snorkeling ke luar pula. Juga nge-dance. Lidia berlatih senam dan menari salsa. Namun, anggota Surabaya Latino Dancers (SLD) itu menyatakan sudah jarang ikut manggung ke kafe-kafe. Saat ini dia tetap aktif. Namun, jadwalnya dikurangi. "Waktunya masih bentrok dengan kuliah dan pekerjaan," jelasnya.

Apa hubungan snorkeling dan dance dengan pekerjaannya? Lidia menjelaskan, snorkeling bisa menjadi ajang mencari teman baru. Traveling memperbanyak kenalan. Hobi jalan-jalan dari satu pulau ke pulau lain menghasilkan banyak pengalaman. Sentuhan dengan alam bisa menjadi obat penat. Laut dengan panoramanya adalah tempat favorit untuk bersantai. "Saya selalu menyediakan waktu untuk itu," tuturnya.

Lidia jatuh hati dengan keindahan laut di Bali dan Lombok. "Setelah pulang dari traveling, saya ceritakan pengalaman asyik kepada pekerja," celetuknya. Dari snorkeling, misalnya, dia mendapatkan ilmu tentang menangani pekerja-pekerja laki-laki yang ngototan. (*/c14/roz)

Jawa Pos, 8 Maret 2017