suarasurabaya.net - Empat dosen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Surabaya mendapatkan Paten atas penelitian berjudul Proses Pembuatan Biodiesel Melalui Reaksi Simultan Ozonolisis dan Transesterifikasi dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Prof. Ir. Lieke Riadi, Ph.D,; Edy Purwanto, ST., M.Eng.Sc,; Aloysius Yuli Widianto, S.T., DEA,; dan Lie Hwa, ST, MT membuat biodiesel berbahan baku minyak jelantah dengan menggunakan suhu ruang (27 derajat Celcius sampai dengan 32 derajat Celcius).

Tiga kelebihan proses pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel karya Prof. Ir. Lieke, seperti disebutkan dalam penelitiannya adalah: Peratama, proses pembuatan biodiesel menggunakan teknologi ozonasi.

"Yaitu proses pembuatan yang melibatkan reaksi ozonolisis dan transesterifikasi sehingga mampu memotong ikatan rangkap di minyak goreng bekas dan menghasilkan metil ester rantai pendek dan metil ester rantai panjang," kata Lieke.

Teknologi ozonasi ini, kata Lieke memberikan produk biodiesel yang lebih stabil. Dengan menggunakan reaksi stimulan ozonolisis dan transesterifikasi maka biodiesel yang dihasilkan menjadi tidak mudah beku, sehingga cocok digunakan pada negara 4 musim.

"Melalui proses ini, titik tuang (pour point) mempunyai nilai 6 dari nilai maksimal 18. Dan ini sangat cocok untuk negara-negara yang memiliki 4 musim," ujar Lieke.

Kedua, Biodiesel merupakan produk yang ramah lingkungan. Carbon yang ada di biodiesel diserap dari atmosphere melalui photosintesa di tanaman. "Ketika membakar biofuel maka carbon dikembalikan ke atmosphere dan tidak ada efek level CO2 di atmosphere," kata Lieke.

Kelebihan yang ketiga, pada umumnya proses pembuatan biodiesel membutuhkan suhu reaksi 60 derajat Celcius sehingga membutuhkan energi (energy extensive). Sedangkan biodiesel buatan Prof. Lieke hanya butuh suhu ruang karena teknologi ozon yang dilakukan melibatkan reaksi ozonolisis.

"Pada proses pembuatan biodiesel umumnya membutuhkan energi (energy extensive), mereka membuat energi dengan menggunakan energi. Dengan reaksi ozonolisis ini, kami tidak energy extensive karena menggunakan suhu ruang," ujar Lieke.

Bahan baku minyak jelantah dalam percobaan ini, tambah Lieke diperoleh dari berbagai restoran cepat saji di Surabaya. Pembuatan biodiesel ini memiliki yield 87,23 persen.

"Misalnya dari 5 liter minyak jelantah dapat menghasilkan 4,36 liter biodiesel. Kedepan nanti kami ingin membuat pilot plant untuk mengarah ke komersial," kata Prof. Ir. Lieke Riadi, Ph.D., kepada wartawan yang menemuinya Senin (27/2/2017).(tok/ipg)