Palang Pintu Otomatis Tekan Kecelakaan

SURABAYA – Mahasiswa Teknik Manufaktur Universitas Surabaya (Ubaya) berinovasi di bidang teknologi keselamatan transportasi. Memanfaatkan tenaga angin, Anthoni, Andreas Wijaya, dan Yovita Sugionoputri membuat palang pintu otomatis di lintasan kereta api. Latar belakangnya, mereka prihatin dengan angka kecelakaan yang tinggi di lintasan palang pintu kereta api.

Berdasar data PT KAI pada 2014, ada 3.729 lintasan kereta api tanpa palang pintu. Menurut data KNKT, pada 2010–2016, terdapat sekitar 35 kasus kecelakaan kereta api. Karena kecelakaan tersebut, 55 orang meninggal dan 240 orang mengalami luka-luka. "Melihat statistik ini, angka kecelakaan yang melibatkan transportasi kereta api cukup besar," jelas Yovita, ketua tim, saat menjelaskan prototipe automatic railway gate system (AuraGS) di laboratorium desain produk gedung Ubaya kemarin (10/1).

Ada empat komponen utama untuk mengoperasikan AuraGS. Yakni, fan indoor AC sebagai turbin, converter untuk mengonversikan tenaga kinetik menjadi listrik, aki sebagai penyimpan daya listrik, dan sensor untuk membaca gerak kereta.

Anthoni berharap AuraGS bisa menjadi salah satu solusi meminimalkan kecelakaan yang melibatkan kereta api. Khususnya di daerah terpencil yang minim palang pintu. "Karena listrik yang dihasilkan dari tenaga angin, wilayah yang belum teraliri listrik pun bisa menggunakannya," tuturnya. (elo/c14/nda)

Jawa Pos, 11 Jan 2017


Mahasiswa Ubaya Ciptakan Palang Pintu KA Otomatis Gunakan Aki

suarasurabaya.net - Ketiga mahasiswa Program Studi Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) yang merancang Automatic Railway Gate System (AuraGS) yaitu palang pintu kereta api otomatis menggunakan aki sebagai sumber daya.

Anthoni, Andreas Wijaya dan Yovita Sugionoputri mengembangkan palang pintu otomatis yang sudah ada, bedanya program AuraGS karya mereka ini menggunakan aki sebagai sumber daya energi.

Program AuraGS bertujuan mengurangi angka kecelakaan kereta api yang disebabkan tidak adanya palang pintu perlintasan, kelalaian petugas dalam menutup pintu perlintasan, dan tidak menutupnya palang pintu perlintasan akibat pemadaman listrik.

Hal ini dilakukan untuk mengakomodir daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki palang pintu kereta serta memiliki keterbatasan sumber daya listrik. Keunikan lainnya adalah aki ini dapat melakukan self-charging sehingga mudah dalam perawatannya dan lebih hemat energi.

Sistem self-charging ini memanfaatkan baling-baling yang bergerak karena energi kinetik yang dihasilkan oleh angin yang berasal dari pergerakan kereta api saat melintas pada daerah palang pintu perlintasan kereta api.

Putaran baling-baling akan dikonversi menjadi energi listrik melalui converter yang selanjutnya dialirkan menuju aki untuk mengisi daya aki.

AuraGS menggunakan dua macam sensor yaitu sensor mekanik sebagai sensor utama dan photo sensor sebagai sensor pembantu. Photo sensor digunakan sebagai sensor pengganti, dimana photo sensor bekerja saat terjadi kegagalan sistem pada sensor mekanik.

Sebelum membuat karya itu, tim mengadakan survey dan juga konsultasi dengan PT. Kereta Api Indonesia tentang standar-standar keamanan yang ada.

Prototype palang AuraGS di buat 1:2 dengan aslinya, palang kereta asli memiliki panjang 4 meter, sehingga palang AuraGS sepanjang 2 meter dan tingginya 1 meter. Untuk baling-baling, dibuat seperti ukuran aslinya yaitu tingginya 1,8 meter.

Tim memanfaatkan fan indoor AC bekas yang dirakit dengan baja untuk menjadi baling-baling. Nantinya, baling-baling akan diletakkan 1,2 meter dari rel kereta.

"Daya aki tidak akan habis karena daya yang terpakai untuk membuka tutup palang akan segera digantikan dengan daya yang baru," kata Anthoni, mahasiswa semester 6 ini.

Karya para mahasiswa ini telah memperoleh beberapa prestasi di antaranya Juara 1 Pekan Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya (Pimus) 2014 Cabang Karya Tulis Ilmiah, Medali Perak International Invention, Inovation, and Design 2015 di Johor, Malaysia.

Tidak hanya itu, AuraGS juga menerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) oleh Kemenristekdikti Periode Pendanaan 2016.

"Dalam Pimus dan International Invention, Inovation, and Design 2015 di Johor itu hanya perancangan sistem saja, kemudian baru dikembangkan sehingga menghasilkan protorype dengan skala perbandingan 1:2," kata Sunardi Tjandra, S.T., M.T., dosen pembimbing pada suarasurabaya.net, Selasa (10/1/2017).(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah


Mahasiswa-Ubaya Rancang Palang Pintu Kereta Api Berdaya Aki (Video)

Surabaya (Antara Jatim) - Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Anthoni, Andreas Wijaya dan Yovita Sugionoputri merancang Automatic Railway Gate System (AuraGS) yaitu palang pintu kereta api otomatis yang menggunakan aki sebagai sumber daya.

"AuraGS bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan kereta api yang disebabkan tidak adanya palang pintu perlintasan, kelalaian petugas dalam menutup pintu perlintasan, dan tidak menutupnya palang pintu perlintasan akibat pemadaman listrik," kata Yovita Sugionoputri di kampus setempat, Selasa.

Dia mengatakan masih banyak perlintasan kereta api yang tidak berpalang karena tidak ada atau kurangnya pasokan listrik, hal lain yang memicu kecelakaan kereta api di perlintasan umumnya juga dapat disebabkan oleh kelalaian petugas dalam menutup palang pintu perlintasan (human error).

Menurut dia, AuraGS adalah pengembangan palang pintu otomatis yang sudah ada. Bedanya, AuraGS menggunakan aki sebagai sumber daya energi. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki palang pintu kereta serta memiliki keterbatasan sumber daya listrik.

Selain itu, lanjutnya aki ini dapat melakukan self-charging sehingga mudah dalam perawatannya dan lebih hemat energi. Sistem self-charging ini memanfaatkan baling-baling yang bergerak karena energi kinetik yang dihasilkan oleh angin yang berasal dari pergerakan kereta api saat melintas pada daerah palang pintu perlintasan kereta api.

"Putaran baling-baling akan dikonversi menjadi energi listrik melalui converter yang selanjutnya dialirkan menuju aki untuk mengisi daya aki," kata mahasiswi semester VI itu.

Ia menjelaskan, AuraGS menggunakan dua macam sensor yaitu sensor mekanik sebagai sensor utama dan photo sensor sebagai sensor pembantu. Photo sensor digunakan sebagai sensor pengganti, dimana photo sensor bekerja saat terjadi kegagalan sistem pada sensor mekanik.

Sebelumnya, tim mengadakan survey dan juga konsultasi dengan PT Kereta Api Indonesia tentang standar-standar keamanan yang ada.

Sementara itu anggota yang lain, Anthoni, menjelaskan, prototype palang AuraGS dibuat 1:2 dengan aslinya. Palang kereta asli memiliki panjang 4 meter, sehingga palang AuraGS sepanjang 2 meter dan tingginya 1 meter.

Sementara untuk baling-baling, dibuat seperti ukuran aslinya yaitu tingginya 1,8 meter. Tim memanfaatkan fan indoor AC bekas yang dirakit dengan baja untuk menjadi baling-baling. Nantinya, baling-baling akan diletakkan 1,2 meter dari rel kereta.

“Daya aki tidak akan habis karena daya yang terpakai untuk membuka tutup palang akan segera digantikan dengan daya yang baru,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, dosen pembimbing AuraGS Sunardi Tjandra ST MT mengatakan, AuraGS telah memperoleh beberapa prestasi di antaranya Juara 1 Pekan Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya (Pimus) 2014 Cabang Karya Tulis Ilmiah, Medali Perak International Invention, Inovation, and Design 2015 di Johor, Malaysia.

Selain itu, AuraGS juga menerima Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) oleh Kemenristekdikti Periode Pendanaan 2016.

“Dalam Pimus dan International Invention, Inovation, and Design 2015 di Johor itu hanya perancangan sistem saja, kemudian baru dikembangkan sehingga menghasilkan protorype dengan skala perbandingan 1:2,” pungkasnya. (*)