Surabaya (Antara Jatim) - Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) membuat ragam produk "Uri-uri" budaya yang terinspirasi dari sisa Kejayaan Kerajaan Majapahit.

"Produk-produk yang dibuat oleh mahasiswa Ubaya berupa mural, tusuk konde, kalung, dan liontin, sepatu, tas, gelang, dan bahkan hingga video mapping," kata Dosen pengampu mata kuliah Ragam Hias Wyna Herdiana, di Ubaya, Rabu.

Wyna mengatakan, para Mahasiswa yang tergabung dalam mata kuliah Ragam Hias ini sebelumnya telah melakukan survey ke empat candi yaitu Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu dan Candi Wringin Lawang.

"Observasi dilakukan pada bulan September supaya mahasiswa dapat mengenal, mengamati, menelaah dan kemudian dapat diterjemahkan ke dalam karya baru sesuai dengan kreatifitas masing-masing," ujarnya.

Wyna menjelaskan, Uri-uri adalah mengeksplorasi budaya masala lampau dan diadaptasi menjadi karya baru. Tujuan dibuatnya karya Uri-Uri adalah untuk memperkenalkan budaya masa lampau dan juga melestarikan kekayaan budaya Indonesia.

"Tidak hanya membuat karya, mahasiswa juga harus mengetahui makna dan filosofi dari setiap peninggalan tersebut. Dipilihnya candi sebagai inspirasi adalah selain karena jarak yang dekat, Trowulan identik dengan Majapahit, Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara," paparnya.

Wyna mengemukakan, sebelumnya mata kuliah ini mengambil tema warisan budaya yang ada di Candi Boko di kawasan Yogyakarta. "Kali ini giliran candi di Mojokerto," katanya.

salah satu Fakultas Industri Kreatif, Natasha Alverina membuat karya tusuk konde. Dirinya menjelaskan, alasan dia dan temannya membuat tusuk konde ialah karena tusuk konde unik dan sekarang tusuk konde sudah jarang digunakan orang.

"Selain itu desain tusuk konde kami terinspirasi dari bentuk bangunan candi dan lambang kerajaan Majapahit yaitu matahari,” terang Natasha Alverina.

Sementara itu,Ivan Hendrika dan seorang temannya, Fina Angga, membua video mapping terinsipirasi dari Candi Tikus. Dia membuat miniatur candi dari stereofom yang dicat hitam.

Miniatur candi kanfas disorot proyektor dengan materi video yang selaras. "Biasanya video mapping ini digunakan untuk background pementasan teater," kata Ivan.(*)

Editor: Tunggul Susilo

 

Budaya Majapahit Kekinian, Itulah Kreasi Mahasiswa Ubaya

Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif, Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan dan memamerkan karya bertajuk “Uri-Uri”. Rabu (21/12/2016). Karya ini mengeksplorasi dan mengadopsi budaya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di trowulan menjadi sebuah karya baru yang kekinian.

Berbagai karya yang dibuatnya seperti tas, perhiasan, mural, dan kerajinan tangan lainnya.

Dosen pengampu mata kuliah Ragam Hias, Prayogo Widyastoto Waluyo menjelaskan, sebelumnya para mahasiswanya melakukan survei ke empat candi yaitu Candi Brahu, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu dan Candi Wringin Lawang.

"Observasi dilakukan pada bulan September supaya mahasiswa dapat mengenal, mengamati, menelaah dan kemudian dapat diterjemahkan ke dalam karya baru sesuai dengan kreatifitas masing-masing," kata Prayogo.

Ia mengatakan, tujuan dari penugasan pembuatan karya ini adalah untuk memperkenalkan budaya masa lampau dan juga melestarikan kekayaan budaya Indonesia. "Tidak hanya membuat karya, mahasiswa juga harus mengetahui makna dan filosofi dari setiap peninggalan tersebut," paparnya.

Selanjutnya, salah seorang dosen mata kuliah yang sama, Wyna Herdiana mengatakan tema yang dipilih pada uri-uri ini adalah candi yang berada di Trowulan. Alasannya karena Trowulan identik dengan Majapahit.

"Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara. dan Peninggalan kerajaan Majapahit memiliki potensi untuk dijadikan referensi dalam berkarya," terang Wyna.
 
Salah satu mahasiwa Fakultas Industri Kreatif, Natasha Alverina mengaku membuat karya tusuk konde. Alasannya karena tusuk konde unik dan jarang digunakan orang pada era modern ini.

"Desain tusuk konde terinspirasi dari bentuk bangunan candi dan lambang kerajaan Majapahit, yaitu matahari. Semoga diera modern ini tusuk konde unik dapat digemari masyarakat,” terang Natasha Alverina.

Sementara itu, Ivan Hendrika dan seorang temannya, Fina Angga, membua video mapping terinsipirasi dari candi Tikus. Dia membuat miniatur candi dari stereofom yang dicat hitam.

Miniatur candi kanvas disorot proyektor dengan materi video yang selaras. "Biasanya video mapping ini digunakan untuk background pementasan teater," kata Ivan. [ito/but]

Sumber: beritajatim.com