TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir memberi izin operasi membuka fakultas kedokteran baru kepada lima perguruan tinggi, meski tak memenuhi syarat. Hasil penilaian Tim Evaluasi Program Studi Dokter yang dibentuk Kemenrisetdikti menyatakan kelima kampus tersebut belum layak membuka fakultas kedokteran pada 2016.

"Hasil penilaian tim, hanya dua yang memenuhi syarat dan satu afirmasi," kata Irawan Yusuf, anggota Tim Evaluasi, bulan lalu. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin di Makassar ini mengatakan ketiga perguruan tinggi yang memenuhi syarat itu adalah Universitas Surabaya, Universitas Islam Negeri Alauddin di Makassar, dan Universitas Khairun di Ternate.

Adapun lima perguruan tinggi yang tidak memenuhi syarat tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Ciputra Surabaya, Universitas Wahid Hasyim di Semarang, dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim di Malang, Jawa Timur. Satu kampus lagi yaitu Universitas Bosowa sama sekali tidak pernah dinilai oleh Tim Evaluasi.

”Kami tidak pernah lihat borangnya, apalagi divisitasi,” kata Irawan. Borang adalah proposal kelengkapan program studi. Bila dokumennya lengkap, Tim Evaluasi kemudian mengunjungi universitas untuk melihat kelayakannya dengan mata kepala sendiri alias visitasi.

Pada 29 Maret lalu, Kemenrisetdikti mengumumkan pemberian izin operasi untuk membuka program studi dokter kepada delapan perguruan tinggi tersebut. Nasir yang dikonfirmasi mengatakan mereka sudah berjalan. “Sudah ada izinnya semua,” kata Nasir di Kantor Kementerian Perindustrian,  Selasa tiga pekan lalu.

Pejabat keempat kampus membantah tidak memenuhi syarat. Adapun Rektor Universitas Bosowa Saleh Pallu mengatakan kampusnya sudah lama mengajukan proposal pembukaan fakultas kedokteran ke Kemenrisetdikti. “Unibos mengajukan sejak pertengahan 2014,” kata Saleh. Baca Investigasi Majalah Tempo dengan judul "Obral Izin Sekolah Dokter" edisi 19-24 Desember 2016.