Mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Ubaya angkatan 52 cukup bervariasi. Dari asal angkatan saja bermacam-macam. Mereka berasal dari berbagai angkatan di saat S1, mulai angkatan 2012, 2011, 2010 ataupun yang lebih senior lagi. Selain itu ada juga yang berasal dari lulusan S1 dari universitas lain, baik dari Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa. Keberagaman ini tidak mustahil dapat menimbulkan kekuranglancaran dalam komunikasi dan juga kekurangkompakan. Sehingga memupuk displin, kekompakan, dan  komunikasi yang baik diperlukan oleh sebuah team.     

Oleh karena itu Pengelola PSPA bekerja sama dengan CAC menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan komunikasi dan kekompakan, mengasah kedisplinanan para mahasiswa tersebut. Dengan mengusung tema Compete in solidity to become one, mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) Angkatan 52 mengadakan out bound Di Tumpang, Kabupaten Malang. Acara yang berlangsung selama 3 hari ini diawali dengan Pembukaan pada hari Jumat, 18 November 2016 di Ruang Pertemuan Wisma Gunung Tabor 1, Tumpang.

Pada hari pertama mereka mendapat berbagai game yang fokus pada peningkatan dalam komunikasi dan kekompakan. Dari sore hingga malam dilakukan permainan yang bervariasi. Jika selama perkuliahan masih ada yang kurang kenal atau kurang kompak, diharapkan di hari esok semakin kenal dan semakin kompak, menjadi sebuah keluarga besar. Kekompakan ini sangat dibutuhkan. Mengingat pada bulan Desember minggu kedua, mereka sudah harus melaksanakan Praktek Kerja Profesi di Apotek. Tentu saja sulit untuk bekerja sama, jika komunikasi di antar mereka kurang baik, bila tidak kompak.

Pada hari kedua dilaksanakan acara out bound yang cukup menantang yaitu Susur Sungai, di salah satu sungai di Desa Tumpang. Dari Wisma Gunung Tabor 1 mulai  Kelompok 1 hingga Kelompok 12 bergerak menuju sebuah sungai kecil di tengah ladang jagung. Perjalanan menuju ladang jagung yang berjarak 250 meter biasa saja, namun begitu menuju sungai sudah mulai terasa tantangannya. Dari ladang jagang turun menuju sungai menggunakan jalan setapak yang curam. Mulailah setiap keompok bahu membahu, bekerja sama menyusuri medan yang cukup berat. Kemudian mereka masuk sungai dan bergerak melawan arus menuju Wisma Gunung Tabor 2 yang terletak di ujung sungai. Terlihat ada yang takut, jijik dengan air sungai yang coklat, namun ada juga yang tetap gembira. Mereka diminta membawa plastik kresek dengan anggapan isinya adalah vaksin yang dikirim ke suatu daerah yang terpencil. Di sana pasien sudah menunggu vaksin yang sudah sangat dibutuhkan. Tugas ini dianggap berhasil bila apoteker yang membawa vaksin tiba di tujuan tepat waktu dengan kondisi vaksin tetap terjaga dengan aman. Tidak boleh ada kerusakan, meskipun banyak tantangan dan rintangan sepanjang jalan. Dan, apakah mereka berhasil?

Ternyata, perjuangan mereka tidak cukup sampai di sini. Sebelum sampai ke tujuan, rute selanjutnya adalah menuju ke sebuah bukit. Untuk mencapai bukit tersebut, mereka harus kembali bekerja sama, bahu membahu melawan medan yang sulit. Kesulitan dialami oleh mereka yang memiliki berat badan di atas rata-rata. Namun..., disini lah diuji kekompakan mereka. Semua mahasiswa  (pria) bahu membahu membantu mendahulukan teman mahasiswi. Tampak latihan ini membuahkan hasil yang memuaskan. Angkatan 52 yang terdiri dari 124 mahasiswa menjadi satu, begitu kompak, bersatu padu mencapai tujuan yang sama. Dan..., berhasil!



Setelah tiba di Wisma Gunung Tabor 2, dilaksanakan salah satu game yang juga mengajak mereka lebih kompak lagi. Namun sayang, ketika akan dilanjutkan ke permainan ke 2, hujan turun. Permainan terpaksa ditunda. Barisan mulai disusun, dan satu per satu kelompok bergerak ke Wisma Guning Tabor 1 diiringi hujan gerimis.

Hari ketiga, permainan tetap berlanjut, dengan game pesan berantai. Game dirancang sesuai dengan bidang farmasi. Informasi berantai yang disampaikan dari anak pertama hingga anak ke 12 di setiap kelompok tentang pesan dari Apoteker Penanggung Jawab kepada Apoteker Pendampingnya. Pesan yang disampaikan tentang penyediaan obat yang fokus pada LASA (look alike, sound alike). Obat tersebut begitu mirip kedengarannya, yaitu obat METIFER, yang sangat mirip dengan MEFINTER. Bila tidak hati-hati, maka besar sekali peluang tertukar. Padahal kegunaannya begitu berbeda. METIFER merupakan suatu vitamin, sedangkan MEFINTER adalah suatu obat antiinflamasi (anti radang). Begitu obat LESCHOL dengan LESICHOL. Satunya obat anti kolesterol, satunya lagi vitamin. Berbeda satu huruf, namun berbeda jauh kegunaannya. Berbahaya sekali jika terjadi kekeliruan. Dengan komunikasi yang sudah terjalin baik selama beberapa hari, hampir semua kelompok berhasil menyelesaikan tugas ini dengan baik.
    
Belum puas juga, acara dilanjutkan dengan membuat persegi panjang dengan menggunakan tali rafia, namun mata semua mahasiswa ditutup. Agar tugas ini selsai dengan baik, persegi panjang harus terbentuk dengan baik, namun ternyata tidak mudah. Dengan game ini komunikasi mereka  terbukti telah terjalin dengan baik. Mereka juga menyadari tanpa kerja sama yang baik dalam satu angkatan, mustahil tugas ini diselesaikan. Mereka juga bisa menilai temannya, yang mana di antara mereka paling cocok sebagai pemimpin. Apakah mereka berhasil? Dan..., terbukti mereka bisa...
    
Salah satu yang paling berkesan di antara sekian kegiatan yang mereka lakukan adalah membuat flash mob. Diiringi lagu Gemu fa mi re, lagu dari daerah Maumere NTT (Goyang Maumere), mereka menari dengan gembira. Ayo nona manis, putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri.....

Walaupun acara yang dijalani cukup berat dan juga menu makan yang tergolong sederhana, para mahasiswa beserta team CAC, dan juga Kaprodi Apoteker (Alasen Sembiring Milala, S.Si., M.Si., Apt.) cukup puas atas pelaksanaan kegiatan ini. Di akhir acara Kaprodi berpesan agar angkatan ini tetap kompak, komunikasi dengan baik, dan disiplin mengerjakan tugas. Satu lagi, harapan dari semua peserta adalah bila nanti yudisium ingin LULUS 100%. Semoga berhasil...