Perkaya Sudut Pandang Mahasiswa

SURABAYA – Wajah mahasiswa asing semakin mewarnai kampus-kampus di Kota Pahlawan. Mereka tidak canggung berbaur dengan mahasiswa dari berbagai daerah. Di Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya misalnya. Tahun ini ada 18 mahasiswa baru yang berasal dari luar negeri.

"Jumlahnya tahun ini bertambah. Sebelumnya kurang dari sepuluh mahasiswa asing yang kuliah di sini (UK Petra, Red),” ungkap Kepala Biro Administrasi Kerja Sama dan Pengembangan Institusi UK Petra Meilinda. Mahasiswa asing paling banyak berasal dari Belanda, Korea, dan Jepang. "Mereka tersebar di prodi sastra Inggris, pariwisata, international business management, dan international business accounting,” imbuhnya.

Alumnus University of New South Wales (UNSW) itu menyatakan, pihak kampus tidak mempromosikan secara khusus untuk menerima pendaftaran mahasiswa asing. "Tetapi, jika ada yang mendaftar, ya kami terima,” katanya. Bertambahnya mahasiswa asing yang tertarik belajar di kampus tersebut disebabkan jalinan kerja sama dengan luar negeri yang cukup intens. Misalnya, melalui beberapa program pendek atau akrab disebut summer program.

Masuknya mahasiswa asing di UK Petra dianggap menguntungkan bagi Meilinda. Sebab, khazanah keilmuan di kampus bisa bertambah. ”Sudut pandang mahasiswa asing jelas berbeda. Mahasiswa asli sini jadi bisa punya network internasional,” katanya.

Di Universitas Surabaya (Ubaya) juga ada mahasiswa asing. Tahun ini tercatat ada 26 mahasiswa asing. Perinciannya, 15 mahasiswa pada program student exchange (pertukaran pelajar), 4 orang kuliah penuh, dan 7 orang dari program beasiswa darmasiswa. ”Asalnya macam-macam. Ada Meksiko, Jepang, Hongkong, serta Timor Leste,” ungkap Manajer Kerja Sama Hubungan Internasional Ubaya Adi Tedjakusuma.

Adi mengungkapkan, jumlah mahasiswa asing terus meningkat setiap tahun. ”Ya, di atas 20-an. Pernah juga ada 40 mahasiswa asing yang mendaftar,” katanya. Selain PTS, perguruan tinggi negeri (PTN) juga memperkuat jalinan kerja sama dengan kampus luar negeri. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tahun ini menerima 50 mahasiswa asing. Mereka berasal dari beberapa program yang disediakan ITS dan pemerintah. Misalnya, program beasiswa kemitraan negara berkembang (KNB). Program tersebut diprakarsai Direktorat Kelembagaan dan Kerja Sama Kemenristekdikti bagi mahasiswa dari negara-negara berkembang.

”Misalnya, dari Afrika, Thailand, Mesir, India, Palestina, Nigeria, dan Pakistan. Tetapi, biasanya yang paling banyak dari Afrika,” kata Kepala International Office ITS Maria Anityasari. Ada pula program pertukaran pelajar untuk mahasiswa asing. ”Biasanya, hanya berlaku selama satu semester,” imbuh Maria.

Dia mengatakan, keberadaan mahasiswa asing menguntungkan kampus. ”Internasionalisasi ini bisa menaikkan peringkat kampus. Makin banyak mahasiswa asing, kampus kami makin dikenal di dunia internasional,” ujarnya. (ara/c6/fal)

Sumber: Jawa Pos, 8 Agustus 2016