Tertarik Pelajari Tarian Tradisional

Mahasiswa QUT Australia tersebut memang mem pelajarinya selama mengikuti studi banding di Universitas Surabaya (Ubaya).

Mereka tiba pada Kamis (19/5). Hasil latihan tari lilin selama empat hari itulah yang kemarin (24/5) dipentaskan dengan baik di Selasar International Village, Ubaya.

Kepala Kantor Hubungan Internasional Ubaya Adi Tedja Kusuma mengatakan, total ada lima mahasiswa Australia yang mengikuti program studi banding di Ubaya. Selain Mercedes Adams, empat mahasiswa QUT lain adalah Massimo Regona, Nicholas Zicer, Lewis Sears, dan Jordan Gentile. Selain menari,lima mahasiswa bule tersebut diberi pengetahuan tentang kebudayaan di Indonesia. ”Setiap tahun kami memang mengundang mahasiswa asing untuk belajar di Ubaya,” katanya.

Adi menambahkan, mengundang mahasiswa asing belajar di Ubaya merupakan bagian dari Summer Program. Itu adalah program pertukaran mahasiswa antara Ubaya dan perguruan tinggi di luar negeri.

Summer Program Ubaya telah berjalan selama tiga tahun. Adi mengungkapkan, tiap tahun ada 100 mahasiswa asing yang belajar di Ubaya. ”Kalau QUT sudah tiga kali mengirim mahasiswanya ke Ubaya,” ujar Adi. Dia berharap, pada masa mendatang jumlah mahasiswa asing yang belajar di Ubaya semakin banyak.

Selain mengenalkan kebudayaan masing-masing, Adi berharap Summer Program mampu meningkatkan mutu Ubaya. ”Salah satu indikator menjadi kelas internasional ya dengan banyaknya mahasiswa asing yang belajar di Ubaya,” ujar dia.

Sementara itu, Connie Susilawati, dosen QUT yang ikut mendampingi lima mahasiswa, mengatakan senang dengan Summer Program. Sebab, program tersebut sangat pas dengan program pemerintah Australia. ”Pemerintah Australia juga memiliki program supaya generasi muda mengenal kebudayaan negara tetangga.

Jadi, Summer Program ini sangat membantu terwujudnya program pemerintah,” ujar Connie. (rst/c7/oni)

Jawa Pos: 25 Mei 2016

 

Mahasiswa Australia belajar tari lilin di Ubaya

Surabaya (ANTARA News) - Lima mahasiswa Queensland University of Technology (QUT) Australia yang melakukan "Summer Program" selama 10 hari di Universitas Surabaya (Ubaya) belajar budaya Indonesia yakni Tari Lilin.

Dosen QUT asal Indonesia yang mendampingi kelima mahasiswanya, Dr. Connie Susilawati, di Surabaya, Selasa, mengatakan kelima mahasiswanya tersebut mendapatkan beasiswa untuk mengikuti "Summer Program" dengan belajar kebudayaan Indonesia.

"Mereka belajar Tari Lilin dari Sumatera Barat. Belajar tarian asli Indonesia menjadi muatan penting dalam rangkaian Summer Program agar mereka mengenal budaya Indonesia," kata perempuan asli Surabaya itu.

Kelima mahasiswa tersebut yaitu, Massimo Regona, Nicholas Ziser, Mercedes Adams, Lewis Sears, dan Jordan Gentile. Sekitar empat jam, mereka diajari Tari Lilin oleh instruktur tari dari mahasiswa Ubaya.

"Tari Lilin dipilih untuk diajarkan ke mereka karena gerakannya mudah, sehingga bisa dengan cepat mereka menghafal setiap gerakan. Sempat terpikirkan mengajarkan Tarian Jawa, namun dinilai susah karena harus sesuai lekuk tubuh," paparnya.

Ia mengatakan mahasiswa QUT telah rutin tiap tahunnya belajar kebudayaan Indonesia dalam Program Summer. Tahun ini merupakan program yang ketiga kalinya.

Sementara itu, Ubaya Office Of International Affairs, Makmesser Lukas Rumbiak S SE, menuturkan selain belajar kebudayaan Indonesia dengan belajar menari, mereka juga akan belajar di bidang pengembangan properti dengan mengunjungi pusat properti dan wisata.

"Selama 10 hari mereka juga akan belajar di bidang pengembangan properti, perbedaan tata kelola di Indonesia dan Australia, mengunjungi beberapa pusat properti, hingga Wisata ke Gunung Bromo," paparnya.

Salah satu mahasiswa QUT, Mercedes Adams, mengaku terkesan dengan Tarian Lilin. Meskipun ketika latihan, lilin yang berada di piring sempat terjatuh.

"Baru pertama kali ke Indonesia dan sangat berkesan, apalagi ada ajakan wisata ke Gunung Bromo yang indah," tandas mahasiswa Jurusan Properti Ekonomi QUT.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016