SURABAYA – Kongres Farmasi Internasional 2014 di Bangkok, Thailand, menjadi kesempatan berharga bagi Indah Yuliawati. Lulusan magister farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) itu mewakili Indonesia untuk mempresentasikan karyanya dalam konferensi para apoteker, industri, komunitas akademik, rumah sakit, dan sebaginya.

Kongres tersebut berlangsung akhir Agustus hingga pertengahan September lalu. Sebenarnya, ada 14 delegasi dari Indonesia. Namun, hanya Indah yang didaulat untuk paparan oral presentation. Dia menampilkan karya inovatifnya berupa Personal Medication Records (PMR).

Bentuknya berupa organizer berupa buku rekaman semua data pasien. Misalnya, riwayat penyakit, penggunaan obat, perkembangan kesehatan, dan lain-lain. "Organizer itu dibawa pasien sendiri, tidak ditinggal di rumah sakit atau apotek," ujarnya.

Menurut Indah, dokumentasi medis personal sangat penting dalam pengobatan penyakit. "Banyak penderita penyakit kronis yang kambuh setelah diobati. Biasanya, mereka tidak menjaga kondisi tubuh atau berhenti mengonsumsi obat-obatan," jelas perempuan 24 tahun itu.

PMR menawarkan suatu sistem yang mengorganisasi informasi pasien. Dengan rutin mengisi PMR, pasien bisa memperoleh berbagai keuntungan. Di antaranya, mengingat kebutuhan obat, membantu dokter atau apoteker untuk memahami kondisi, serta menemukan dan mencegah permasalahan terkait dengan kealpaan konsumsi obat.

"Sebelumnya, metode ini pernah dipakai di Jepang. Namun, organizer-nya ditinggal di apotek," papar Indah. Konferensi farmasi internasional itu juga menampilkan pameran poster perkembangan farmasi dari puluhan negara di dunia. (rim/c15/roz)

Sumber: Jawa Pos, 23 September 2014