Dosen Fakultas Farmasi Ubaya, Lisa Aditama dan Indrajati Kohar, bersama dua apoteker dari Apotek Ubaya, Indah dan Maria Philomena menciptakan Organizer Personal Medication Records untuk para odapus (orang dengan lupus). Ide instrumen ini dituangkan dalam sebuah proposal yang berhasil memenangkan Juara I dalam ajang Syamsi Dhuha Foundation Lupus Awards 2014 pada 9-10 Mei di Bandung. Tim ini menjadi finalis kategori penelitian “All About Lupus” berjudul “Efektivitas Organizer Personal Medication Records dalam Pharmacovigilance Terapi Obat Pasien Systemic Lupus Erythematosus di Komunitas”.

Dengan organizer ini, odapus di Indonesia yang jumlahnya sudah lebih dari 10 ribu orang—dapat ditingkatkan keselamatannya dalam penggunaan obat. “Lupus merupakan penyakit kronis yang penanganannya membutuhkan jangka waktu lama. Pasien biasanya ditangani lebih dari satu atau dua dokter karena munculnya berbagai gejala pada organ tubuhnya. Hal ini berpotensi memunculkan masalah penggunaan obat, baik dari efek samping obat, maupun interaksi obat yang dikonsumsi pasien, atau merupakan gejala lupus yang baru pada organ lain,” terang Lisa Aditama. Tingkat kepatuhan pasien dalam menggunakan obat juga cenderung rendah akibat ketidaksabaran pasien menghadapi penyakitnya yang membutuhkan jangka waktu lama, maupun kurangnya keterlibatan antar tenaga kesehatan–pasien dan atau keluarganya dalam memberikan informasi pengobatan dan motivasi kepada pasien. Ketidakpatuhan ini menyebabkan komplikasi medis dan psikososial penyakit, mengurangi kualitas hidup pasien, dan menyia-nyiakan sumber daya kesehatan secara percuma.

Salah satu upaya untuk dapat meningkatkan keselamatan pasien adalah melalui pharmacovigilance (deteksi, penilaian, pemahaman, pencegahan efek samping, interaksi obat) yang pelaksanaannya dibutuhkan dokumentasi yang bisa diakses oleh pemberi layanan kesehatan dan dapat mendukung keselamatan pasien. Organizer Personal Medication Records menjadi jawabannya. Berbentuk organizer berisi informasi terkait riwayat medis dan terapi obat pasien, dalam organizer ini disisipkan pula informasi edukatif mengenai hal yang harus dilakukan setiap pasien maupun tenaga kesehatan dalam menggunakannya.

Sebanyak 45 odapus yang merupakan sampel dari komunitas lupus di Surabaya, diedukasi mengenai manfaat dan penggunaan organizer bagi keselamatan pasien. Instrumen ini telah tervalidasi dan teruji keefektifannya melalui penelitian kualitatif awal yang mengukur persepsi pasien, apoteker, dan dokter dalam menurunkan kesalahan penggunaan obat oleh pasien. Sosialisasi instrumen ini akan menjadi agenda dalam program ke depan. “Selanjutnya semoga dapat dikembangkan secara elektronik yang terintegrasi dan kompatibel antara data pasien dengan tenaga kesehatan yang menangani,” tutupnya.