"Kyung Hee University" Pelajari Jamu di Ubaya
21 Jan 2014 22:50:58| Pendidikan/Pesantren | Penulis : Laily Widya Arishandi

Surabaya (Antara Jatim) - Kyung Hee University Korea mempelajari jamu di Fakultas Farmasi yang tergabung dengan Pusat Informasi Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) Universitas Surabaya (Ubaya) dalam "Summer Program" 2014.

Kegiatan yang berlangsung pada 20-30 Januari 2014 ini mendatangkan 12 mahasiswa, 18 mahasiswi, serta satu profesor pendamping, Dr. Kim Se-Young Ph.D. Mereka mendalami pengobatan tradisional dan tanaman obat di Indonesia.

"Mahasiswa dari Departemen of Oriental Medicinal Materials and Processing ini akan praktek langsung membuat jamu dan pengembangan produk obat herbal," kata Ketua dari "Summer Program" 2014, Adi Tedjakusuma, di Gedung International Village Ubaya.

Selain itu, ia menambahkan, kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut juga mengajarkan kepada mahasiswa untuk menjamin kualitas dari produk herbal dan membuat ekstraksi daun salam serta manfaatnya.

Tidak itu saja, kata dia, setelah mahasiswa dari Kyung Hee University tersebut mempelajari tanaman toga serta cara pengolahannya, mereka akan mengunjungi ke perusahaan suplyer bahan baku dari tanaman obat menjadi obat herbal.

"Jadi, setelah kegiatan di Ubaya, mereka kami bawa untuk mengunjungi perusahaan obat tradisional di Pandaan, ke Poli Obat Tradisional Indonesia (OTI) di RSU Dr. Soetomo, dan terakhir akan bertemu ibu-ibu penjual jamu gendong di Trawas," katanya.

Ia menegaskan, pengobatan tradisional Indonesia menjadi topik pertama karena adanya permintaan obat tradisional yang dianggap harganya lebih rendah dibanding obat modern yang juga diambil dari bahan alam seperti kar, bunga, daun, kulit pohon, serta buah-buahan.

Sementara itu, mahasiswi dari Kyung Hee University, Lee Yoon Ju tertarik dengan obat tradisional Indonesia yang sebelumnya belum diketahui bentuk asli dari jamu tersebut.

"Sebelumnya saya belum mengetahui bentuk dari jamu seperti apa, namun saya sangat tertarik, sehingga belajar tentang pembuatan obat tradisional Indonesia," katanya.

Menurut dia, rasa dari jamu tersebut pahit, apalagi dikonsumsi hanya dengan jamu saja atau tidak dicampur makanan ataupun minuman lainnya.

"Di sini obat tradisionalnya jamu, di Korea obat tradisionalnya ginseng yang bisa dicampur dengan minuman coklat panas, kopi atau makanan seperti sup, serta makanan ringan seperti permen" katanya.

Senada dengan Lee Yoon Ju, ke empat temannya dari universitas yang bertempat di Seoul itu, di antaranya Kim Eun Hee, Choi Taehwan, Lee Eunmin, Lee Jonghun sangat bersemangat ketika proses pembuatan jamu berlangsung. (*)
Editor : Tunggul Susilo

Sumber: http://www.antarajatim.com


Mahasiswa Korea Belajar Jamu di Ubaya
Kunyit Asem Lebih Manis dari Ginseng

SURYA Online, SURABAYA - Kim Eunhee, Choi Taehwan, Lee Eunmin, Lee Jonghun, dan Lee Yoon Ju secara bergantian menumbuk  kunyit dalam cawan putih di salah satu ruang gedung International Village, Universitas Surabaya, Selasa (21/1/2014). Ketika giliran Lee Jonghun, tumbukannya terlalu keras hingga mengenai dasar cawan. Mahasiswa Khyung Hee University, Korea Selatan ini terlihat begitu semangat dibandingkan teman-temannya.

”Ternyata cukup keras ya ini, jadi harus ditumbuk kuat,”katanya sambil menunjuk kunyit di dalam cawannya.

Selesai menumbuk, kunyit yang sudah dicampur dengan air itu lalu dituang dalam cairan asam di atas api sedang. Kemudian ditambahkan gula aren. Setelah itu cairan itu disaring dan dituang dalam gelas kaca.

Mereka pun bergiliran mencobanya. “Ini lebih asam dan lebih manis dibandingkan ginseng,”sebut Lee Yoon Ju.

Gadis berambut sebahu ini mengaku sangat bersemangat ketika diberitahu akan mendapat pengetahuan tentang jamu. Selama ini dia hanya mengenal ginseng, obat herbal yang dikonsumsi untuk kesehatan.

Dia belum pernah tahu bentuk dan rupa bahan-bahan lain seperti daun pandan, kunyit, asem, jahe, gula aren dan kencur. Jadi, ketika bahan-bahan itu ditunjukkan, dia sangat antusias mengamatinya.

”Katanya jamu itu pahit, saya ingin mencobanya,”katanya saat ditemui sebelum memulai membuat jamu kunyit asam.

Selain mereka berlima, Summer Program 2014 ini diikuti 30 mahasiswa Kyung Hee University yang mengambil tema Indonesian Medicinal Plants and Traditional Medicine.
Selama 10 hari mereka akan mendalami pengobatan tradisional dan tanaman obat di Indonesia.

”Pengobatan tradisional menjadi topik summer program karena adanya permintaan yang cukup tinggi seperti obat modern. Dan obat tradisional ini menjadi pilihan cerdas menggantikan obat modern yang harganya mahal,” kata Ketua Summer Program 2013 Adi Tedjakusuma.

Selama 10 hari, para mahasiswa bermata sipit ini tak hanya belajar dan praktek membuat jamu, tetapi juga pengembangan produk obat herbal, jaminan kualitas dari produk herbal membuat ekstraksi daun salam serta manfaatnya. Kemudian peserta juga diajak ke kampus 3 Ubaya (Ubaya Training Center), Trawas, untuk belajar tanaman toga.

”Di UTC mereka juga akan kami ajak untuk melihat para penjual jamu gendong,”kata Adi.

Mereka juga akan mengunjungi PT Natura Laboratoria Prima, Pandaan, perusahaan supliyer bahan baku dari tanaman obat menjadi obat herbal yang siap kirim ke industri obat.

”Kami juga akan mengajak mereka berkunjung ke poli obat-obatan tradisional Indonesia di RSUD dr Soetomo,” terangnya.

Diakui Adi, kerjasama ubaya dengan Kyung Hee University terjalin sejak 2011. Diawali dengan pengemabngan ginseng gunung yang dilakuakn di fakultas teknobiologi. Kerjasama ini ditindaklanjuti dengan pengiriman beberapa dosen Ubaya ke Kyung Hee Universwity untuk menempuh pendidikan strata 2.

”Melalui diskusi kedua belah pihak, akhitnya terbentuknya even Summer Program 2014 ini. Karena topiknya tanaman obat dan obat tradisional, maka fakultas farmasi yang berperan dominan di kegiatan ini,”pungkasnya.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com


Mahasiswa Korea Jajal Jamu Temulawak dan Kunyit Asem

suarasurabaya.net - Dalam program Indonesian Medicinal Plants and Traditional Medicine, mahasiswa Kyung Hee University Korea, hadir di Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), Selasa (21/1/2014) mencoba membuat Jamu Temulawak dan jamu Kunyit Asem.

Menurut dr. Kim Se-Young Ph.D, para mahasiswa asal Korea ini secara khusus memang akan belajar tentang pengobatan tradisional sekaligus juga untuk mengenal tanaman obat yang dimiliki Indonesia.

“Pengobatan tradisional, menjadi pilihan cerdas untuk menggantikan obat-obat modern yang saat ini harganya memang mahal. Dan Indonesia punya tanaman obat yang dapat menggantikan keberadaan obat modern itu,” terang dr. Kim Se-Young.

Tidak hanya mencoba membuat jamu tetapi juga pengembangan produk obat herbal, jaminan kualitas dari produk herbal, serta mencoba membuat ekstraksi Daun Salam serta manfaatnya.

“Selasa (21/1/2014) ini, para mahasiswa Kyung Hee mencoba membuat Jamu Temulawak dan Jamu Kunyit Asem, dan nantinya mereka juga akan belajar tentang tanaman Toga,” ujar Hayuning Purnama Direktorat Publikasi Universitas Surabaya.(tok/ipg)

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net


Mahasiswa Korea Praktik Membuat Jamu di Ubaya
21 January 2014 Post by Artika Farmita | Surabaya

“Stir it, Kim,” seru mahasiswa Ubaya  sambil mengarahkan tangan gadis bermata sipit yang tampak canggung memegang ulegan berwarna putih. Di sebelahnya, seorang perempuan muda berkulit putih, memotong-motong temulawak. Beberapa kawannya mengamati dengan serius kuliah jamu hari itu.

Mereka adalah mahasiswa Kyung Hee University, Korea yang tengah menjalani Summer Program 2014. Bekerja sama dengan Universitas Surabaya (Ubaya), 30 mahasiswa itu tak hanya ingin berkenalan dengan budaya Indonesia, tapi juga mempelajari pembuatan jamu. Mereka didampingi seorang dosen pembimbing, Dr Kim Se-Young, PhD. Pengobatan tradisional khas Indonesia menjadi topik andalan program pertukaran budaya di Ubaya tersebut.

“Kali ini jamu dipilih karena di Korea, jurusan mahasiswa-mahasiwa itu adalah Fakultas Oriental Medicine,” kata Ketua Summer Program 2014, Adi Tedjakusuma di Gedung International Village, Ubaya Selasa (21/1/2014). Obat tradisional, menurut pihaknya, menjadi pilihan cerdas menggantikan obat modern. Sebab, harganya lebih rendah.

Selama 10 hari, ketiga puluh mahasiswa itu nantinya akan dipandu oleh para pengajar dan mahasiswa Fakultas Farmasi. Mereka diperkenalkan dengan berbagai bahan alam penyusun jamu. Seperti akar, bunga, daun, kulit pohon, serta buah-buahan. Jamu temulawak dan kunyit asem menjadi materi percobaan mahasiswa-mahasiswi Kyung Hee University.

“Selain praktik membuat jamu, mereka akan diajak melakukan kunjungan ke pabrik jamu Natura, Pandaan. Lalu ke Poli Obat Tradisional Indonesia (OTI) RSUD dr Soetomo, Surabaya, Kebun Toga di Trawas, serta berinteraksi langsung dengan penjual jamu gendong,” jelas Adi.

Lee Jeong Hun, salah seorang peserta Summer Program mengungkapkan kekagumannya terhadap jamu. Dengan bahasa Inggris yang sederhana, ia mengatakan obat-obatan di negaranya tak beragam seperti di Indonesia. “Di Korea kami lebih sering mengolah ginseng,” ujarnya.

Usai meracik jamu bersama-sama, mereka diminta mencicipi jamu temulawak buatannya tersebut. Jamu yang melalui proses penyeduhan dan penyaringan itu lantas dimasukkan ke dalam gelas. Sambil meniup sesendok jamu yang masih panas, Kim Eun Hee mengerjap lalu berkomentar. “Rasanya pahit, tapi juga manis,” lontarnya.(wh)

Sumber: http://www.enciety.co