SURABAYA - Pelepah kayu pohon kelapa yang biasa ada di pelataran rumah warga, sering dianggap tak berguna bagi kita. Namun, berbeda jika serabut pelepah kayu itu berada di tangan kreatif Evi Aryaningrum, mahasiswa Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) ini. Dia berhasil membuat beraneka karya unik dari pelepah kayu kepala itu. mulai dari lemari buku, tempat koran, tempat tisu, tempat pensil, hingga lampu hias.

Semua furnitur bikinan gadis bernama Evi itu bernuansa etnik. Aksen yang etnik tersebut, dihasilkan dari serat pelepah yang sukses membuat karya gadis asal Bali ini memiliki seni yang cukup tinggi. Dan untuk membuatnya, inspirasinya tersebut tidak muncul tiba-tiba. Saat kebingungan mencari tugas akhir, dia pulang ke kampungnya di kawasan Klungkung Bali.

"Saya menemukan pelepah kayu pisang yang berserakan. Dari situ, saya lalu terlecut untuk menjadikan benda berkarya seni," ungkapnya.

Untuk membuat karyanya tersebut, tentu saja, Evi tak menggunakan pelepah kayu kelapa sembarangan.

Ada kriteria khusus, di antaranya menggunakan pelepah yang muda atau setengah kering. Karena, jika terlalu kering, maka pelepah yang akan dijadikan karya ini akan mudah patah.

Proses pembuatannya pun cukup mudah. Usai menyeleksi serabut pelepah yang dibutuhkan, maka yang dilakukan adalah membuat pola. Pola ini dibuat dari kertas karton dengan bentuk sesuai dengan benda yang diinginkan. Namun, khusus untuk kali ini, yang digunakan Evi adalah benda-benda dengan pola geometri. "Setelah itu baru serabut pelepah ditata di atas kertas karton. Penataannya dengan cara ditumpuk hingga berlapis dan tebal," terang anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Proses pengeleman dan pressing menjadi tahap selanjutnya. Pengeleman ini dilakukan dengan menggunakan lem kayu. Sedang pressing yang dilakukan dikatakan Evi bisa mencapai lima lapis. Hal ini dilakukan agar barang yang dibentuk tidak lentur dan patah. Baru tahap terakhir adalah finishing dengan menyemprotkan cat piloks agar serabut pelepah tampak mengkilap.

Untuk satu set accsesories itu, Evi hanya menghasikan uang produksi senilai Rp 200 ribu. Namun, jika dijual, Evi mematok karyanya seharga Rp 350 ribu. "Saya masih belum memikirkan untuk produksi massal. Namun, mungkin ke depan bisa saya buat banyak untuk dijual,"katanya. (ima/nin)

Sumber: Radar Surabaya

 

Ubah Pelepah Kelapa Jadi Kerajinan

Kebanyakan pelepah dari pohon kelapa hanya dibuang begitu saja. Tetapi di tangan Evi Aryaningrum, pelepah kelapa ini mampu disulapnya menjadi berbagai jenis barang kerajinan.

Pelepah kelapa atau yang sering disebut tapis oleh masyarakat Bali ini, sebenarnya adalah serat bagian kulit ari dari batang pohon kelapa yang biasanya terletak di bagian atas atau dekat dengan buah kelapa. Serat-serat ini sering dianggap sebagai sampah, karena setelah kering akan berguguran dan oleh masyarakat sekitar akan dibuang. Melihat banyaknya limbah pelepah kelapa atau tapis yang belum dimanfaatkan sama sekali oleh masyarakat Bali, Evi mencoba berkreasi dengan serat yang mempunyai tekstur unik itu.

“Ide awalnya waktu jalan-jalan ke daerah Klungkung Bali, kebetulan itu daerah asal saya. Di sana saya melihat banyak tapis tidak terpakai dan hanya menjadi limbah. Akhirnya saya bawa ke Surabaya dan mencoba untuk berkreasi dengan serat-serat ini,” kata Evi saat ditemui di kampus Universitas Surabaya (Ubaya) kemarin. Alhasil, setelah mengeksplorasi pelepah kelapa ini, Evi bisa menghasilkan barang kerajinan seperti tempat tisu, tempat pensil, lampu meja, tempat koran dan beberapa tempat serba guna lainnya.

Evi juga memberi nama produknya dengan nama “Etnik Home Accessories.” Proses pengerjaan kerajinan serat ini sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Bahkan untuk menghasilkan lima kreasi yang kemarin dipamerkan ia hanya membutuhkan waktu kurang dari satu bulan.

“Untuk tapis-tapis ini kan memang bisa diambil secara gratis sebanyak-banyaknya sepanjang di daerah Klungkung. Tapi kan kadang ada yang bersih dan kadang ada yang berlumut. Jadi setelah diambil harus dicuci dulu semuanya lalu dikeringkan. Makanya se-benarnya tergolong cepat membuat lima kreasi dalam waktu kurang dari sebulan,” ungkap mahasiswi jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Ubaya.

Selain membutuhakn waktu yang tidak terlalu lama, alatalat yang digunakan untuk membuat tapis menjadi hiasan berguna juga sederhana, seperti gunting, karton, lem, pilox, dan alat press berupa dongkrak. Pembuatan dimulai dengan membersihkan serat yang dicuci memakai deterjen. Lalu dijemur di bawah sinar mata-hari hingga kering dan menjadi lembaran-lembaran pelepah.

Pelepah itu selanjutnya dibentuk sesuai pola desain. Sedangkan untuk merekatkan serat Evi cukup menggunakan lem PVC dan lem sintetik kuning. Tahapan berikutnya Evi menggunakan dongkrak mobil sebagai alat press serat supaya tebal dan kaku. Terakhir supaya hasilnya cantik dan me-narik, Evi memberi sentuhan berkilau dengan cat clear. Untuk membuat kerajinan dari pelepah kelapa, Evi mengumpulkan tiga jenis pelepah kelapa yakni mulai pelepah dengan serat muda, semi kering dan serat kering.

Alasannya karena ketiga jenis serat ini adalah serat pelepah yang mudah diaplikasikan menjadi produk dan tidak menyebabkan gatal di tangan. Sedangkan untuk warna yang digunakan, Evi sengaja tidak memberi pewarna pada pelepah karena tema produknya yang etnik lebih cocok jika menggunakan warna asli dari pelepah.

“Saya tidak menambahkan warna-warna lain, karena pernah saya coba dan saya konsultasikan dengan dosen ternyata hasil jadinya jelek. Ditambah lagi saya lebih mengangkat tentang etniknya, akhirnya untuk warna tidak saya ubah tapi tetap warna dari asli pelepah,” tandasnya.

Kreasi pelepah kelapa dari Evi ini juga sekaligus sebagai hasil tugas akhirnya selama menempuh studi di ubaya. “Lembaran yang dihasilkan dari tapis itu ukurannya kecilkecil jadi untuk sementara ini mungkin yang bisa dibuat memang lebih cocok untuk barang-barang rumah tangga sederhana.

Dan kreasi ini juga masih ada kekurangannya untuk ketahanan terhadap air. Tapi terlepas dari itu semua, kreasi Evi ini unik dan belum pernah ada,” kata dosen pembimbing kedua Wyna Herdiyana.● MAMIK WIJAYANTI Surabaya

Sumber: Koran Sindo
 

Mahasiswi Ubaya Rancang Aksesoris Rumah dari Tapis

Surabaya (Antara Jatim) - Mahasiswi Universitas Surabaya (Ubaya), Evi Aryaningrum, merancang aksesoris rumah yang terbuat dari "tapis" (pelepah pohon kelapa), seperti tempat tisu, tempat pensil, lampu meja, tempat koran, serta tempat serbaguna.

"Saya memang lahir dan besar di Surabaya, tapi tanah kelahiran orang tua saya ada di Klungkung, Bali. Nah, setiap mudik ke Klungkung itu, saya sering menemukan sampah tapis berserakan di sepanjang jalan," katanya di kampus setempat, Selasa.

Sebagai mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk pada Fakultas Industri Kreatif (FIK) Ubaya, ia melirik sampah-sampah tapis itu sebagai bahan kreasi untuk "tugas akhir" (TA). "Akhirnya, saya ajukan ke dosen pembimbing, ternyata diterima," katanya.

Menurut alumnus SMAK St. Carolus Surabaya itu, kreasi yang dinamai "Etnik Home Accessories" itu tidak bisa dirancang dengan sembarang pelepah kelapa (tapis), namun harus memilih tapis yang memiliki serat yang mudah dilipat dan tidak pecah.

"Ada empat jenis tapis yakni muda, semi kering, kering, dan sangat kering. Dari keempat jenis itu hanya tapis sangat kering yang tidak bisa digunakan. Jadi, kendala pembuatan aksesories etnik dari tapis itu proses memilih tapis-nya yang pas. Itu pun hanya untuk dua jenis kelapa yakni kelapa hijau dan gading, sedang kelapa jenis lain tidak bisa," katanya.

Setelah itu, tapis direkatkan pada kertas karton yang tebal dengan lem PVC dan lem sintetik kuning, lalu dipotong dengan pola "etnik geometrik" yakni kotak, segitiga, bulat, dan sebagainya.

"Etnik itu sesuai dengan hasil akhir barang-barang yang saya buat, warna-warnanya 'kan mengarah ke nuansa etnik, lalu semuanya dirangkai menjadi lima aksesoris yang dijual dalam satu paket," katanya.

Ia mengatakan dirinya menjual kreasi yang dirancang dalam waktu pembuatan tidak sampai satu bulan itu seharga Rp350.000 untuk satu paket, namun produk rancangannya itu bisa dibeli terpisah. "Kalau dibeli eceran, harganya Rp80 ribu hingga Rp100 ribu," katanya.

Ke depan, ia berencana mengembangkan kreasinya untuk diproduksi sebagai souvenir khas Klungkung.

"Saya sengaja merancang aksesoris, sebab tapis itu tidak mungkin dibuat furnitur, kecuali untuk sesuatu yang bisa dipajang," katanya, didampingi dosen pembimbing, Wyna Herdiyana ST M.Ds. (*)

Sumber: http://www.antarajatim.com