Bersyukur, itulah ungkapan pertama kali yang dikemukakan Cyntia Maria Poedjianto Adi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Surabaya ketika papernya diterima untuk dipresentasikan di Workshop Building Individual and Organizational Capacity for Psychological Intervention after Disasters in the Asia and Pacific Region. Workshop tersebut diselenggarakan oleh International Union of Psychological Science (IUPS) bekerja sama dengan Chinese Psychological Society di Beijing China 11-14 Oktober 2013. Cyntia menceritakan bagaimana proses mendapatkan kesempatan untuk presentasi di workshop tersebut. Pertama kali terdapat proses seleksi abstrak terhadap paper bertema penanganan disaster, seleksi berdasarkan profile individual, dan background peminatan di sekitar penanganan bencana. Berbekal pengalaman penanganan pengungsi Merapi dan penyandang disabilitas bersama tim Statistic Assistance Center (SAC) Fakultas Psikologi Ubaya, penanganan kasus banjir Bojonegoro dan pendampingan lansia bersama Serikat Pekerja Santo Vincentius (SSV) membuat Cyntia mencoba memberanikan diri mengirimkan paper berjudul Social Stories Punakawan (clown-puppet) as a Means of Traumatic Healing Intervention for Children after Mount Merapi Eruption. Paper tersebut dikerjakan bersama Listyo Yuwanto dan Grace Karlinda, sebuah paper dengan pendekatan research action selama penanganan pengungsi Merapi. Paper tersebut akhirnya diterima, semua biaya mempresentasikan di luar negeri mulai dari akomodasi, transportasi, pengurusan visa, dan lain sebagainya ditanggung oleh IUPS.

Workshop tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai negara yaitu Indonesia, Uzbekistan, Sri Lanka, India, China, Thailand, dan Kazakhstan. Pesertanya beragam mulai dari praktisi hingga akademisi yang terlibat secara praktis dalam proses penanganan bencana di masing-masing negara. Masing-masing peserta memiliki gelar master, doctor, dan professor, yang membanggakan, Cyntia adalah peserta termuda dan satu-satunya undergraduate student. Dalam workshop tersebut Cyntia mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan karyanya, selain itu juga mendapatkan kesempatan mengikuti workshop tentang penanganan bencana dengan narasumber professor-professor yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, China, Selandia Baru, Belanda, dan Jerman. Cyntia sempat merasa tidak percaya diri ketika harus mempresentasikan karyanya di depan peserta lain dan beberapa professor, namun dengan keinginan kuat untuk membagikan karyanya yang unik, maka perasaan itu dapat diatasi. Bahkan di akhir presentasi karyanya mendapatkan pujian dari Professor Rainer K Silbereisen selaku Past President of the International Union of Psychological Science karena merupakan karya yang merepresentasikan indigenous psychology.

Dari Merapi ke Beijing, mungkin kesempatan ini adalah karunia Tuhan selama pengabdian dua tahun di pengungsian Merapi. Selain mendapatkan banyak pengalaman selama program rekonstruksi pengungsi Merapi bersama SAC sebagai bentuk learning beyond the classroom seperti yang dicanangkan Ubaya, Cyntia juga belajar mengintegrasikan kegiatan pengabdian masyarakat menjadi research action, juga untuk menjalin jejaring internasional. Hal ini tidak terlepas dari dukungan Fakultas Psikologi Ubaya. Semoga Ubaya semakin maju.

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/news_detail/1226/Mahasiswa-Fakultas-Psikologi-Ubaya-Mempresentasikan-Karya-Ilmiah-Di-Forum-Internasional.html