Atur Emosi dan Manajemen Stres Tingkatkan Performa Kerja

Stres di tempat kerja tidak boleh dibiarkan. Justru emosi dan tekanan harus dikelola agar keduanya tidak mengganggu kinerja.

DALAM setiap pekerjaan, emosi dan stres akan selalu mengancam. Namun, terkadang bukan tekanan atasan atau klien yang memicu stres. Emosi atau stres justru muncul lantaran karyawan tidak mampu mengendalikan diri ketika situasi atau kondisi yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut konsultan karir Lisyan Tamara Setioputro SSos MM, cara paling efektif untuk mengendalikan emosi dan stres adalah berusaha melihat permasalahan yang terjadi dari sisi positif atau sudut pandang orang lain. Kemudian, coba selesaikan permasalahan yang ada satu persatu dengan kepala dingin.

Faktor-faktor yang paling memungkinkan untuk mengganggu emosi dan membuat stres di tempat kerja adalah tekanan yang tak bisa dikendalikan. ”Contoh paling mudah, kita sudah mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya, tentu baik menurut versi kita. Tapi, ketika dicek atasan, terkadang ada beberapa hal yang harus direvisi, bahkan tidak jarang berulang-ulang,” tutur Lisyan.

Selain itu, pekerjaan yang menumpuk dengan deadline mepet bisa memicu stres karyawan. ”Sekali lagi, yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal-hal tersebut adalah selalu melihat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain. Juga, selalu berusaha mengatur ritme kinerja kita sehingga deadline yang ada tidak terasa memberatkan,” jelas career services manager Direktorat Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Surabaya (Ubaya) tersebut.

Saat situasi tidak lagi bisa dihindari, cara untuk mengurangi tekanan emosi dan stres adalah keluar dari siklus pekerjaan sementara waktu. Misalnya, mengambil cuti. Lakukan hal-hal yang ringan seperti mengerjakan hobi dan berjalan-jalan bersama teman atau keluarga. Ambil waktu sejenak agar kita tidak memikirkan hal-hal yang bersangkutan dengan pekerjaan. ”Harapannya, dengan pikiran yang fresh, kita mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk,” lanjutnya.

Lisyan menegaskan, tidak ada posisi, jabatan, atau bidang pekerjaan tertentu yang secara spesifik berpotensi memunculkan stres. Semua posisi, jabatan, dan bidang pekerjaan berpotensi mengakibatkan stres bagi karyawan. Karena itu, penyelesaiannya sangat bergantung pada individu. (kkn/c7/na)

Sumber: Jawa Pos, 25 Mei 2013