SURABAYA - Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya memercayakan sekolah untuk meng-handle persiapan ujian nasional (unas) di sekolah masing-masing. Baik latihan soal maupun persiapan mental para siswa.

 
Kadispendik Surabaya Ikhsan menganggap, sekolah lebih tahu kebutuhan siswa dibandingkan dispendik. Karena itu, pihaknya tidak mau memberi tekanan atau aturan khusus. "Sekolah lebih tahu mana bab tryout atau latihan soal yang perlu dimantapkan bagi siswa-siswanya," katanya kemarin (12/3).
 
Sekolah juga diyakini paling paham kekurangan siswa sehingga mengerti pelajaran mana yang perlu pendalaman. Dispendik hanya memantau. Ikhsan mencontohkan, setiap ada acara di suatu sekolah atau agenda pertemuan kepala sekolah (Kasek), dispendik selalu mengingatkan mereka. Ikhsan berpesan kepada para siswa, guru, dan sekolah bahwa hari-H unas semakin dekat. Karena itu, mereka harus meningkatkan kualitas pembelajaran.
 
Sekolah juga dibebaskan mengadakan pemantapan mental siswa. Misalnya, mengundang motivator atau melakukan istighotsah bersama. Contohnya, yang dilaksanakan di SMAN 21 Surabaya Senin lalu (11/3). 
 
SMAN 21 mengundang psikolog Universitas Surabaya (Ubaya) untuk memberikan wejangan kepada para murid. Psikolog yang bernama Heruwati Sulistyaningtyas itu meminta siswa tidak menjadikan unas sebagai momok. 
 
"Jika unas dianggap momok, otomatis ada kecemasan dalam diri siswa. Kecemasan tersebut bisa menumbuhkan keterlambatan, kemalasan, dan kekecewaan," paparnya. 
 
Shima Ardiyani, siswi SMAN 21 Surabaya, mengungkapkan, kedatangan motivator banyak membantu pelajar. Menurut dia, unas selama ini terkesan menakutkan. Apalagi, ada pengetatan pengawasan dan variasi soal yang berjumlah 20 paket per kelas.
 
Kepala SMAN 21 Surabaya Siti Laila menyatakan, kegiatan itu bertujuan untuk mengimbangi latihan soal unas yang biasa dilakukan. "Ini melatih mental mereka," ucap dia.
 
Secara terpisah, Kepala SMPN 1 Muchtar menyatakan, pembinaan mental memang diperlukan pada masa-masa menjelang unas. Tujuannya, siswa tidak merasa gugup berlebihan. Bedanya, sekolahnya tidak melibatkan narasumber dari luar. 
 
"Sejak jauh hari, para guru disiapkan agar dapat lebih dekat dengan siswa untuk memberikan pembekalan seara mental. Tugas mereka tidak melulu memberi latihan soal unas," papar Muchtar. 
 
Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Isa Ansori mengatakan, apa pun kiat sekolah dalam menghadapi unas, siswa tidak boleh merasa tertekan. Dispendik diminta jeli terhadap fenomena itu. (rio/c8/diq) 
 
Sumber: Jawa Pos, 13 Maret 2013