Mengeringkan pakaian sering menjadi problem ibu rumah tangga dan anak kos. Terutama pada musim hujan. Ada solusi dari Yohanda Widyatama Siswanto, mahasiswa Teknik Manufaktur Universitas Surabaya. Dia menciptakan lemari pengering pakaian.

BENTUKNYA tak berbeda dari lemari biasa. Tingginya sekitar 130 cm dan lebar 100 cm, terbuat dari kombinasi aluminium dan multipleks melamin. Di sebelah kanan atas lemari itu terdapat tombol, timer, lampu indikator, serta seutas kabel yang dicolokkan ke listrik.

Itulah lemari pengering pakaian karya Yohanda Widyatama Siswanto. Lemari tersebut dibuat untuk
memenuhi tugas akhirnya sebagai mahasiswa jurusan Teknik Manufaktur Universitas
Surabaya (Ubaya).

Fungsinya, mengeringkan pakaian basah atau setelah dicuci. Kapasitasnya 15-20 potong pakaian. ''Kalau tujuh potong pakaian, bisa kering sekitar dua jam. Tapi, itu bergantung pakaiannya,'' jelas Yolanda sambil memasukkan beberapa pakaian basah ke lemari itu.

Baju-baju tersebut digantung di hanger yang terpasang di lemari. Setelah semua baju masuk, pria 23 tahun tersebut mencolokkan kabel ke stop kontak, menekan tombol on/off, dan memutar. Pemanas akan mati secara otomatis sesuai waktu yang ditentukan.

Selain alat pemanas (heater)yang dipasang di bagian bawah, lemari tersebut dilengkapi sirkulasi udara di bagian atas berupa lubang sepanjang delapan inci. Elemen pemanas terdiri atas lempengan besi bersirip. Untuk memanaskan elemen itu, dibutuhkan listrik 800 watt.

Yolanda menjelaskan, pemanas diletakkan di bawah karena prinsip panas itu menguap dari bawah ke atas. ''Ketika panas mengenai baju basah, akan terjadi penguapan. Kemudian, udara lembap yang dikeluarkan baju tersebut dibuang melalui sirkulasi udara di bagian atas lemari, sehingga baju
bisa kering,'' jelasnya ketika ditemui di Laboratorium Teknik Manufaktur Ubaya.

Suhu panas dalam lemari itu akan keluar setelah 15 menit. "Tidak bisa langsung," ujarnya. Suhu diatur sekitar 40-50 derajat. "Kan ada baju yang tidak boleh kena suhu terlalu panas," tegas pria
bertinggi badan 180 cm itu. Bagian dalam lemari dilapisi polyvinyl, sejenis plastik, agar tidak cepat rusak karena uap atau air.

Ide menciptakan lemari tersebut muncul dari masalah sehari-hari yang biasa dihadapi ibu rumah tangga atau anak kos. Yaitu, baju tidak bisa dijemur karena tidak ada tempat untuk menjemur atau karena cuaca yang tidak memungkinkan. "Kalau di tempat kos, tempat menjemur pakaian kan sangat terbatas. Dengan alat itu, bisa mudah mengeringkan baju," kata Yohanda.

Sebelum membuat lemari tersebut, dia melakukan penelitian. Menyebar angket di sekitar tempat kosnya, di dekat kampusnya di kawasan Rungkut. Pertanyaan dalam angket tersebut, antara lain, kendala yang dihadapi pada musim hujan, solusi pengeringan, dan jumlah rata-rata pakaian yang dicuci tiap hari. "Dari hasil penelitian itu, saya bisa menyesuaikan alat tersebut dengan
kebutuhan masyarakat," ungkap Yohanda.

Lebih lanjut dia menyatakan, banyak warga yang kesulitan mengeringkan pakaian ketika musim hujan.
Solusinya, rata-rata menggunakan kipas angin untuk mengeringkan baju. Jumlah cucian tiap hari rata-rata 15-20 potong. "Makanya, saya buat kapasitas lemari itu untuk 15 pakaian," jelasnya.

Ketika dia mengajukan ide tersebut kepada dosen pembimbingnya, ternyata langsung diterima. "Ide itu cukup menarik karena belum banyak yang melakukan," kata Ir Wiyanto, dosen pembimbing Yohanda.

Mahasiswa yang hobi main gitar tersebut memang ingin menciptakan alat yang betul-betul aplikatif, yang bisa digunakan banyak orang. "Jangan sampai membuat alat, tapi setelah itu dibiarkan nganggur.  Kan percuma," ujarnya.

"Jadi, sudah saya perhitungan aspek manfaatnya. Bahkan, saya sudah menyurvei pasar," lanjutnya.

Pembuatan alat tersebut tidak sekali jadi. Dia berkali-kali membongkar lemari itu karena bocor. ''Sekitar lima kali bocor. Ada salah satu bagian yang kurang rapat,'' tuturnya. Berkali-kali pula dia memindahkan lubang sirkulasi udara. Pertama, lubang itu diletakkan di samping, ternyata tidak cocok, lalu dipindahkan ke atas. ''Ya, harus membongkar lemari itu lagi dan membuat lubang baru,'' ungkap anak kedua di antara empat bersaudara tersebut.

Begitu juga pemanasnya. Awalnya diletakkan di samping lemari, ternyata tidak sesuai, kurang aman untuk anak kecil. ''Kalau di samping, bisa berbahaya untuk anak-anak,'' tegasnya. Akhirnya diletakkan di bagian bawah. ''Model yang terakhir ini paling pas dan paling aman,''ujarnya.

Yohanda merasa beruntung mendapat dukungan dari orang tuanya. Bukan hanya materi, tapi juga dukungan ide. Sebelum menyelesaikan alat itu, dia menawarkan alat tersebut kepada ayahnya. ''Ternyata, ayah menyambut baik ide itu,'' katanya. Kebetulan, ayah Yohanda punya bengkel rekayasa mesin dan alat bantu. ''Ayah saya juga mendapat banyak pesanan membuat berbagai mesin,'' ungkapnya.

Lemari pengering tersebut rampung pada Agustus lalu. Tapi, pesanan sudah cukup banyak. ''Alat itu sudah saya iklankan di blog dan e-mail," ucapnya. Pemesannya dari Jawa Barat dan Jawa Timur. "Terutama para penghuni apartemen dan pengusaha laundry," kata mahasiswa kelahiran Kudus itu.

Rencananya, lemari tersebut dijual Rp 1,5 juta. "Saya kira harganya sesuai," ujarnya. Namun, harga bisa ditekan bergantung pesanan. Jika diproduksi masal, bisa saja lemari itu dibuat dari kayu. Begitu juga ukurannya, bisa diperbesar agar bisa memuat banyak pakaian.

Jawa Pos Selasa, 22 September 2009
Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/media_detail/374/Lemari-Pengering-Pakaian-Ciptaan-Yohanda-Widyatama-Siswanto-Mahasiswa-Jurusan-Teknik-Manufaktur-Universitas-Surabaya.html