Imam Abdurachman, Sarjana Komputer yang Jadi Pengusaha Jamur
 

Awalnya hobi. Tapi siapa sangka kalau ditekuni bisa menghasilkan rupiah. Modal terbatas pun bukan alasan untuk takut berkembang. Selama ada kemauan, pasti ada jalan.
 
ROESITA IKA WINARTI, Samarinda

HAL ini terus diyakini Imam Abdurachman, pria berusia 25 tahun yang sukses mengembangkan usaha waralaba di bidang kuliner. Mulanya, dia yang gemar mencicipi aneka kuliner jatuh cinta pada renyahnya jamur crispy yang dijual dekat kampusnya di Universitas Surabaya (Ubaya).

Tahun 2010, panganan itu mulai naik daun di Surabaya. Saking sukanya, dalam sehari Imam bisa membeli empat sampai lima kali jamur renyah berbumbu ini. Lama-lama dia berpikir untuk membuat usaha serupa jika kembali ke Samarinda. Setahun kemudian, saat pulang ke Kota Tepian, Imam mulai menjalankan niatnya.

Dia tak langsung membuat usaha olahan jamur. Imam mengawalinya dengan budidaya jamur tiram putih. Sebenarnya dia sama sekali tak paham dengan budidaya jamur. Dia lebih fasih menyebut rangkaian perangkat komputer, sebab dirinya adalah sarjana komputer. Meski demikian, hal itu bukan halangan.

“Saya mengikuti pelatihan yang diadakan Fakultas Pertanian Unmul (Universitas Mulawarman, Samarinda) tentang budidaya jamur. Lalu saya juga mulai bergaul dengan para petani jamur. Dari sana saya paham ternyata budidaya jamur ini tidak terlalu sulit,” ujarnya kepada Kaltim Post, Rabu (13/3).

Sepetak lahan milik keluarga yang tak terpakai diubahnya menjadi tempat budidaya. Bukan hal mudah bagi Imam memulai usaha ini. Restu dari orangtua dan keluarga tak dikantongi pada awal perjalanannya. “Orangtua dan keluarga saya ingin saya bekerja kantoran, bukan wirausahawan. Saya sempat beradu pendapat dengan keluarga saya, meski ditentang saya tetap menjalankan usaha ini,” kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Awal 2012 akhirnya dia memilih mengubah haluan. Imam tak lagi mengurusi usaha budidaya jamur. Saat itu, kata dia, bersama petani jamur lainnya kesulitan menjual hasil panen jamur tiram putih ini. “Setelah dipanen, jamur hanya mampu bertahan sehari. Oleh sebab itu saya berpikir untuk mengolah jamur ini agar mempunyai nilai jual tambahan,” ucapnya.

Dia mulai membuat jamur crispy kesukaannya saat kuliah dulu. Belum ada tempat khusus untuk berjualan saat itu. Dia menjual jamur olahannya berdasarkan pesanan. Misalnya, pesanan dari teman sekantor kakaknya, yang kini jadi pelanggan tetap. Lama-lama penggemar jamur buatannya pun semakin banyak. Imam berpikir untuk membuka sebuah outlet dan mengembangkan usahanya.

“Keberanian saya pun bertambah setelah mengikuti seminar wirausaha. Modal awal Rp 4 juta saya dapat dari bantuan orang tua. Saya akhirnya membuka outlet pertama di kantin Fakultas Ekonomi, Unmul,” jelasnya.

Outlet pertama itu dibukanya sejak Mei 2012. Dibantu seorang karyawan, Imam menjual jamur crispy merek Jkripss Jamur Pedas Gila dengan harga Rp 9.000 per bungkusnya. Rasa yang ditawarkannya beragam. Ada rasa balado, BBQ, keju hingga rasa pedas level satu, dua dan level pedas gila. Sambutannya pun sangat baik. Dalam rentang waktu 10 bulan sebanyak 14 outlet jamur miliknya sudah tersebar di Samarinda, Muara Badak, dan Balikpapan.

Imam hanya mengelola dua outlet jamur. Sisanya merupakan usaha kemitraan yang dikelola orang lain. Dalam sehari 100 kilogram jamur tiram putih dibutuhkan untuk memasok bahan di gerai yang ada. Jamur-jamur ini diperolehnya dari hasil budidayanya sendiri dan para petani jamur lain di Samarinda dan Tenggarong.

Dari hasil kerja kerasnya, kini Imam ber-omzet ratusan juta per bulan. Dia pun dapat membuktikan kepada orangtuanya bahwa berbisnis adalah pilihan yang tepat. Ke depannya Imam berharap dapat membuat sebuah sentral jamur agar dapat memenuhi kebutuhan jamur di Samarinda.

“Prospek usaha jamur ini sebenarnya sangat cerah. Jadi saya berharap dapat terus mengembangkannya,” ujarnya. (far/k1)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id