Kondisi politik yang kurang stabil selama proses pemilihan presiden (Pilpres) 2014, tentu berdampak pada perekonomian Indonesia. Salah satu yang dikaitkan adalah melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing seperti Dollar Amerika, yang menembus angka dalam kisaran Rp 12.000 per USD 1. Sedangkan pemulihan Rupiah diprediksi baru akan terjadi setelah Pilpres 2014 selesai. Apalagi eksportir yang cenderung menahan mata uang asing hasil ekspor di negara lain seperti Singapura, Hongkong, Swiss dan Austria, membuat pemupukan devisa Negara menjadi semakin sulit.

Selain nilai tukar Rupiah yang mengalami depresiasi, DrsEc H Ahmad Zahfrullah Tayibnapis MS selaku Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi Ubaya, menambahkan beberapa hal yang terjadi pada perekonomian Indonesia terkait Pilpres 2014, “Realisasi investasi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) dan PMA (Penanaman Modal Asing) cenderung tertunda hingga pelantikan Presiden, dan menunggu program 100 hari pertama dari Presiden terpilih. Hal ini berujung pada terhambatnya penciptaan lapangan kerja, padahal jumlah pencari kerja senantiasa bertambah, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun.”

Ia juga mengatakan bahwa kegiatan Pilpres 2014 yang berbarengan dengan bulan puasa membuat harga-harga barang pokok meningkat tajam di pasar. “Harga cabe, bawang merah, bawang putih, daging, kedelai, telur ayam dan lainya akan mengalami kenaikan, atau terjadi inflasi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Pelemahan nilai mata uang Rupiah berpengaruh pula pada harga bahan baku dan bahan penolong impor sehingga menaikan harga jual barang di pasar,” ujar Dosen Pengasuh mata kuliah Ekonomika Internasional ini.

“Dalam debat Calon Presiden, tampak keduanya ingin mengambil langkah untuk menasionalisasikan perusahaan asing di Indonesia secara bertahap, padahal ini dapat membuat calon investor asing menjadi ragu untuk merealisasikan investasinya di Indonesia,” tutupnya. (mgl/wu)