Setiap tanggal 22 April, seluruh masyarakat dunia memperingati hari yang bernama Hari Bumi. Apa itu Hari Bumi? Sesuai namanya, tentu saja Hari Bumi diadakan untuk memperingati bumi kita ini. Lalu kenapa harus diperingati? “Sekarang kondisi bumi mengalami degradasi yang cukup signifikan,” tutur Yunus Fransiscus, S.T., M.Sc. selaku Ketua Pusat Studi Lingkungan. Hari Bumi diadakan dengan tujuan supaya kita bisa mengetahui pelik nya kondisi bumi itu, namun sayangnya, kesadaran internal Ubaya sendiri pun masih kurang.

Dalam usahanya untuk menaikkan minat internal Ubaya, Pusat Studi Lingkungan (PSL), Pusat Studi Energi Terbarukan (PSET), dan komunitas d’Young Green (dYG) di tingkat mahasiswa sudah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan kesadaran internal Ubaya dalam menjaga bumi. “Kami mengambil hari-hari khusus, seperti 5 Juni 2013 lalu, kami ikut merayakan World Environment Day,” jelas dosen berkacamata ini. “Kami (PSL, PSET, dYG) melakukan kampanye internal di kampus soal pentingnya menjaga bumi,” tambahnya.

Ya, hingga saat ini, PSL, PSET, dan aktivis mahasiswa dYG juga masih terus berjuang dalam melestarikan bumi. Baru-baru ini di bulan April, dYG juga menyelenggarakan lomba poster dengan tema “Green Cities”. Jika anda sempat berkunjung ke perpustakaan Ubaya di lantai 1 pada tanggal 7-10 April 2014 lalu, pasti anda melihat poster-poster yang ditempel. Nah, poster-poster itulah hasil karya mahasiswa-mahasiswi Ubaya yang peduli akan pentingnya menjaga kelestarian bumi. “Lomba poster ini adalah rencana anak-anak dYG untuk memperingati Hari Air yang jatuh pada tanggal 22 Maret, dan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April yang akan datang,” jelas Yunus.

Komunitas d’Young Green Ubaya terbuka bagi siapapun yang turut peduli akan kelangsungan hidup bumi. “Komunitas d’Young Green ini terbuka untuk semua fakultas, tidak terbatas pada teknik saja,” jelas Yunus dengan ramah. “Untuk bergabung silakan langsung saja datang di Pusat Studi Lingkungan di gedung TG lantai 4,” tambahnya lagi. Komunitas dYG ini sering melakukan kampanye untuk internal Ubaya dengan tujuan untuk membangkitkan kesadaran internal masyarakat Ubaya. Komunitas dYG ini juga memberikan pendidikan untuk peduli lingkungan di lingkungan eksternal juga, di SMP-SMA di dalam dan luar Surabaya, dan bahkan juga di beberapa desa. “Kita hanya punya satu bumi dan saya rasa hal itu perlu diingat baik-baik,” tutupnya dengan tegas. (sml)