Otak pedagang mencari untung. Harga daging yang melonjak naik sehingga membuat pedagang daging kewalahan. Menjual daging rusak dan menimbun daging ialah cara berbisnis yang salah demi mencari keuntungan pribadi.”

Dampak kenaikan harga daging menjadi pengalaman tersendiri bagi masyarakat dan berbagai pihak tertentu. Tentunya pedagang daging sebagai pelaku utama yang terlibat kerap memutar otak karena terkena dampak tersebut. Faktanya, ada pedagang daging yang dengan sengaja menjual daging rusak dan juga melakukan penyimpangan lainnya.

Dosen yang akrab disapa Verina ini mengaku bahwa pedagang daging harusnya beretika dan tidak merugikan orang lain. “Penghayatan terhadap prinsip dan nilai hidup perlu ditekankan terhadap individu pelaku tindak kecurangan,” ungkap Dr L Verina Halim S MM selaku dosen FP laboratorium psikologi industri dan organisasi. Dari sisi psikologis, tindakan pedagang daging tersebut merupakan perilaku impulsif yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya, pedagang daging tidak curang walau keuntungan menurun. Wakil Dekan Psikologi Profesi yang hobi berkebun ini mengungkap bahwa pengalaman membentuk kedewasaan seperti pedagang daging yang merugikan orang lain tidak patut disebut dewasa.

Bagi Verina, pembinaan etika dari dinas pemerintah dan penegakan hukum perlu dilakukan agar masyarakat tidak terus menjadi korban. Selain menimbulkan efek jera, hukuman yang ditimpakan dari sisi psikologi dapat menimbulkan pemikiran dari dalam diri untuk lebih bertanggung jawab. “Namun juga perlu fungsi koordinasi antara Dinas Pemerintah yang bersangkutan, kepolisian, Lembaga Perlindungan Konsumen, dan asosiasi pedagang yang terkait. Dalam koordinasi harus saling mendukung dan bersinergi menuntaskan masalah,” tutup wanita kelahiran Jakarta ini. (gun)