Fenomena Transgender kini tengah meraba dunia anak remaja Indonesia. Entah sebagai topik perbincangan atau malah memutuskan sebagai transgender. Lalu, apa yang menyebabkan seseorang memutuskan sebagai transgender? Apakah karena faktor genetik? Ataukah karena faktor psikologis? Mari kita simak wawancara WU kali ini…

Menurut Ruth Chrisnasari, S.TP., M.P. yang merupakan dosen laboratorium purifikasi dan biologi molekuler FTB, transgender dapat terjadi karena banyak hal. Tapi tak terelakkan apabila hal tersebut terjadi lantaran kromosom yang dimiliki oleh orang tersebut. Pada kromosom normal, wanita memiliki kromosom XX sedangkan Pria XY. “Jika kromosom tersebut ada yang berlebih atau bahkan kekurangan, maka dapat menimbulkan penyimpangan dalam tubuh orang tersebut,” ujarnya.

Ruth memapaparkan bahwa jika ada kelebihan kromosom X, khususnya pada kaum hawa, akan menyebabkan keterbelakangan mental. Tapi jika hal tersebut dialami oleh kaum adam, maka yang terjadi justru akan terbentuk fisik wanita tetapi akan tumbuh beberapa hal yang dimiliki oleh pria, seperti kumis. “Kumis yang tumbuh tipis pada tubuh seorang wanita merupakan salah satu wujud nyata dari kromosom yang memiliki kelebihan X,” jelasnya.

Selain itu, Ruth juga menjelaskan bagaimana seseorang mengalami kelainan pada kromosom. Ia menerangkan bahwa kelainan-kelainan tersebut dapat muncul akibat ketika suatu pasangan sama-sama memiliki hormon yang lemah dan bertemu akan menyebakan kelainan pada tubuh manusia. “Sebaiknya, jika akan menikah lebih baik dicek terlebih dahulu agar lebih aman untuk keturunannya,” tuturnya.

Walau sedikit tak masuk akal, tapi hal tersebut tak disangkal oleh dosen psikologi sosial, Tony, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Ia memaparkan bahwa kecenderungan seseorang memilih sebagai transgender lantaran dari faktor biologis alias sudah ada sejak lahir. Biasanya mereka akan merasakan pemberontakan jiwa ketika beranjak remaja. “Kan ketika usia tersebut, manusia akan mencari jati diri mereka. Nah disinilah awal mula mereka merasakan adanya hal yang tak sesuai dari dirinya,” ungkapnya.

Terbukti pada salah satu warga Indonesia yang memutuskan untuk transgender, sebut saja namanya Rara (nama disamarkan). Ia mengaku bahwa sejak kecil ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Ia pun mengaku tak pernah menginginkan hal tersebut terjadi pada dirinya. “Hal ini sulit untuk dideskripsikan. Awalnya aku merasa benci pada diriku sendiri, ada pemberontakan dalam tubuhku. Aku mencoba tak menghiraukannya, tapi lama-lama aku nggak nyaman sama diriku sendiri,” akunya.

Menilik dari hal tersebut, terlihat bahwa pernyataan Rara tadi sesuai dengan yang diutarakan oleh Tony dan Ruth. Faktor utama seseorang memutuskan transgender memang bukan lantaran ia ingin, tapi karena faktor biologis. Tak ada seorang pun yang menginginkan hal tersebut terjadi pada dirinya. So guys, don’t judge the book from the cover yaa..!! (jco)