Internasionalisasi perguruan tinggi menjadi salah satu program yang berhasil diraih Ubaya tahun 2010. Melalui Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), kini fakultas tersebut masuk menjadi anggota Asosiasi Sekolah Bisnis Dunia (The Association to Advance Collegiate Schools of Business atau AACSB) sehingga menjadikan Ubaya berkelas dunia. “Ketika saya masih menjadi dekan, kami sudah mencanangkan untuk suatu saat FBE dapat meraih akreditasi dunia dan tidak lagi hanya mengandalkan akreditasi nasional,” tutur Sujoko Efferin M Com(Hons) MA PhD.

Di Indonesia baru ada tujuh universitas yang menjadi anggota AACSB. Asosiasi tersebut mengatur tentang standar penjaminan mutu dan harmonisasi kurikulum yang juga sekaligus memberikan akreditasi sebagai sekolah bisnis di dunia. “Namun ada berbagai hal yang harus kita perbaiki dalam penyelenggaraan mutu, kualifikasi dosen dan kurikulum,” ungkap kaprodi Magister Akuntansi (Maksi) ini.

Sehingga pada 15 November 2011, FBE mengikuti Workshop pelatihan S2 yang diadakan di Singapura. Workshop ini memberitahukan bagaimana mendesain ulang kurikulum S2. “Karena di FBE mempunyai dua program studi, Dr Putu Anom Mahadwartha SE MM selaku ketua program studi MM (Magister Manajemen) dan ketua program studi Maksi yang mengikuti workshop tersebut,” sambungnya.

Dalam workshop, nampak sekolah bisnis itu harus kuat dalam membentuk karakter kepemimpinan, memperhatikan masalah pembentukan karakter moral agar mempunyai etika dan kurikulum perlu di desain kreatif, tidak hanya mengandalkan tatap muka konvensional didalam kelas saja. “Hal itu berfungsi untuk merangsang daya pikir yang kreatif inovatif mahasiswa,” ujar Sujoko.

Sesi yang paling menarik, ketika sharing pengalaman universitas terkemuka di dunia. Seperti Universitas Insead di Prancis, Universitas Seoul di Korea, Universitas Tsinghua di Cina dan sekolah bisnis di India. “Universitas Tsinghua mempunyai mata kuliah managerial thinking. Program tersebut tidak membicarakan konsep bisnis, alat-alat analisis bisnis, tapi membicarakan bagaimana managerial thinking dibutuhkan untuk berpikir kritis. Sehingga dapat membentuk logika berfikir orang,” kesannya ketika sesi tersebut.

Jadi artinya, jika kita ingin serius membangun program S2 yang mempunyai daya saing internasional. Kita harus berani mengkombinasikan berbagai metode yang memungkinkan kita untuk dekat dengan dunia nyata dengan masalah real yang memang ada di sekitar kita. “Penyelenggaraan yang kreatif, memang dananya tidak murah karena itu memang perlu dukungan financial dan institusional baik dari berbagai kalangan khususnya bisnis dan industri,” tutupnya. (az/wu)