Tanpa lahirnya pendidikan nasional, Bangsa Indonesia tidak akan ada

Ungkapan bijak itulah yang disampaikan Kaprodi Akuntansi Politeknik Ubaya Drs ec Nuryanto MM dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2011 kemarin. Peringatan ini juga merupakan perayaan lahirnya sosok Ki Hajar Dewantara dan berkat perjuangannya, pendidikan di Indonesia dapat terwujud dan berkembang.

Seperti kita ketahui, Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang peduli akan pendidikan bangsa ini. Gelar Bapak Pendidikan Nasional pun disematkan pada dirinya. Karena kepedulian yang sangat tinggi pada jamannya, ia mendirikan Taman Siswa. Taman Siswa sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Taman Siswa, ia juga tetap rajin menulis. Tema adalah pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah, ia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hajar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (Bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Ki Hajar Dewantarapun menyampaikan pepatah bijak yang maknanya sangat dalam. “Ing Ngarso Sung Tulodho” yaitu ketika di depan publik, kita harus bisa memberikan contoh atau teladan yang baik untuk orang lain. Yang kedua adalah “Ing Madyo Mangun Karsa” ketika di tengah atau di antara publik, kita harus mangun karso atau bekerja keras dan membangun kinerja yang baik. Yang terakhir adalah “Tut Wuri Handayani” yaitu ketika kita ada di belakang, kita harus memberi semangat dan motivasi untuk orang lain.

Untuk itu sebagai penerus bangsa, kita harus mengamalkan pepatah ini dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Nuryanto. Tak harus dengan berperang melawan penjajah tetapi dengan kesungguhan melakukan hal positif sesuai profesi secara tidak langsung akan melaksanakan amalannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah sebagai mahasiswa, hendaknya Hardiknas ini diperingati dengan sungguh-sungguh. ”Jadi seharusnya setiap kita memperingati Hardiknas, peserta didik tidak hanya menghafal tetapi lebih mengamalkan dan menghayati,” sambung pria ramah ini.

Karena tuntutan pendidikan atau vokasi yang tinggi. Diharapkan Politeknik menciptakan lulusan yang cerdas dan berkompeten karena hal ini diperlukan untuk memasuki dunia kerja sesuai bidangnya masing-masing,” tutupnya. (bbs,az/wu)