Baru-baru ini masyarakat diresahkan dengan berita tentang razia mie instant di beberapa supermarket di Taiwan. Negara di kawasan Asia Timur itu kini melarang peredaran makanan cepat saji itu. Taiwan mengklaim mie instant mengandung bahan pengawet berbahaya yaitu nipagin (p-metil hidroksibenzoat) yang dilarang pemakaiannya di negara tersebut. Di Taiwan, pengawet makanan yang dipakai adalah etil hidroksi benzoat.

”Sebenarnya metil yang digunakan di Indonesia dan etil yang digunakan di Taiwan sama-sama bisa dipakai sebagai pengawet dalam makanan, hanya perbedaannya terletak pada kemampuan penetrasinya,” jelas Dra Farida Suhud MSi Apt, WD I FF. ”Dan soal pemakaian nipagin yang diperbolehkan atau tidak, sebenarnya tergantung peraturan setiap negara,” terangnya lagi. Indonesia sendiri telah menetapkan nipagin atau metil p-hidroksibenzoat sesuai standar internasional, yaitu 250 mg/kg.

Meskipun sudah memenuhi standar, jika dikonsumsi berlebihan, nipagin juga berdampak buruk bagi kesehatan. Batas aman pengkonsumsian nipagin tergantung dari ”daily intake” (batasan seseorang mengonsumsinya dalam sehari) yaitu 10 mg/kg berat badan manusia. ”Sebagai contoh, berat badan orang Indonesia 50 kg. Dalam satu pack mie instant mengandung nipagin 100 mg. Maka perhitungannya 10 mg dikali 50 kg sama dengan 500 mg yang merupakan batasan maksimum untuk dikonsumsi. Namun jika seseorang mengonsumsi 6 bungkus per hari, berarti yang masuk ke tubuh 100 mg nipagin dikali 6 sama dengan 600 mg dan sudah melebihi batas maksimum,” tutur  wanita berkacamata itu.

Dalam jangka panjang konsumsi nipagin dengan kadar melebihi batas maksimum dapat menimbulkan penyakit, antara lain hipersensitivitas (alergi), urtikaria, bronkospasme, dermatitis, bahkan kanker payudara. Karena itu, kita harus mewaspadai frekuensi mie instan yang dikonsumsi agar tidak berlebihan sehingga menganggu kesehatan. (re1)