Kemampuan komunikasi di depan umum (public speaking) menjadi suatu tuntutan yang wajib dipenuhi dalam persaingan di era global. Hal ini menjadi penting untuk menghindari kesalahan penyampaian maksud dalam suatu forum, baik formal mau pun informal. Belum lagi tuntutan untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa asing agar tak kalah bersaing dengan negara lain. Lantas, apakah public speaking menjadi sesulit mempelajari suatu bidang ilmu? Drs Besin Gaspar MPd, Direktur Ubaya Language Center (ULC) menekankan bahwa mempelajari cara berkomunikasi yang baik tidak lah sukar.

Public speaking sendiri terdiri dari banyak bentuk, antara lain presentasi, pidato, serta story telling. “Dalam komunikasi lisan, perlu dipahami how and what to say,” buka Gaspar. Maksudnya, selain menguasai materi yang akan dibicarakan, penting pula menguasai teknik penyampaian yang lugas namun tidak membosankan. Diharapkan inti dari materi tetap bisa tersampaikan, namun tidak monoton sehingga membuat pendengar bosan.

Menurut pria asal Timor ini, dua aspek tersebut sering hanya dimiliki salah satunya oleh penyampai materi. Padahal, dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan untuk bisa menjadi seorang speaker. Namun, ada beberapa trik yang bisa dilakukan untuk menyiasatinya. “Bisa dilakukan analogi, perumpamaan, retorika, serta permainan nada dan repetisi untuk memberi penekanan pada poin pentingnya,” ungkap Gaspar. Dalam hal ini, retorika yang dimakasud adalah penggunaan bahasa efektif seperti pemilihan kata dan pola kalimat untuk menarik perhatian.

Ditanya tentang batasan usia mempelajari public speaking, pria ramah ini hanya tersenyum. ”Sama seperti ilmu lain, tidak ada kata terlambat. Tetapi akan lebih baik bila dipelajari sejak dini,” jawabnya bijak. Setiap orang dengan berbagai latar belakang pendidikan pun dijamin mampu menguasainya bila mau. Sebab public speaking adalah kemampuan interdisipliner yang bisa diterapkan di berbagai bidang.

Kabar gembira bagi civitas akademika Ubaya, ULC telah membuka suatu forum untuk mewadahi pembelajaran public speaking, yaitu Ubaya Public Speaking Society (UPSS). ”Tapi sementara masih terbatas dalam Bahasa Inggris,” tuturnya. Namun di masa mendatang, program yang bebas diikuti mahasiswa berbagai fakultas ini akan dikembangkan dalam bahasa asing lain. Peserta UPSS akan dibekali pelajaran tata bahasa serta poin-poin dan materi penunjang dalam public speaking. Tujuannya, adalah membekali mahasiswa Ubaya dengan kemampuan yang baik untuk bisa tampil di hadapan umum.

Gaspar juga berbagi tips  untuk bisa menjadi speaker yang baik. Sangat penting mengerti tata Bahasa Inggris dasar, diikuti latihan bicara dengan lafal yang tepat, dan pola kalimat yang benar. Tahap terakhir adalah membiasakan diri untuk menyampaikan ide dengan urutan yang logis. ”Communication skill ibarat senjata wajib bagi seseorang untuk bisa survive dalam era internasionalisasi ini,” pesannya. (mei/wu)