Kartini merupakan sosok yang sangat berjasa bagi perempuan Indonesia karena perjuangannya untuk menyetarakan kedudukan perempuan dengan pria. Tanpa jasa Kartini, perempuan di era ini tidak akan bisa menempuh pendidikan bahkan berkarir. Hal ini juga sangat disyukuri oleh dr Ika Mariani Ratna Devi, Sp. PD. yang merupakan seorang dokter spesialis penyakit dalam dan dosen tetap sekaligus Koordinator Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Ubaya.

Q : Apa makna hari kartini bagi dokter ?

A : Menurut saya hari kartini adalah hari yang perlu dirayakan, karena perjuangan kartini, banyak perempuan yang bisa berkarir. Bahkan sekarang sudah bisa ditemui kondisi dimana para pria yang mulai ,membantu tugas rumah tanggadan memberikan kesempatan bagi istrinya untuk melanjutkan sekolah maupun terus berkarir. Hari Kartini adalah pengingat kebebasan untuk lebih mengekspresikan diri lebih maju, dan bahwa perempuan itu takdirnya tidak hanya di rumah, tapi juga mengembangkan kemampuan dan potensi diriya secara maksimal

Q : Bagaimana sosok Kartini bagi dokter ?

A : Saya pribadi, sangat kagum dengan sosok Kartini. Karena pada zaman dulu, wanita kedudukannya ada di bawah pria, dan ibu kartini adalah satu-satunya wanita dijamannya yang memiliki ide supaya wanita bisa membaca dan berpendidikan. Saya bisa membayangkan segala pertentangan yang beliau hadapi saat itu, dimana seorang wanita bisa menghadapi pertentangan dan kontradiksi yang akhirnya membuat wanita jaman sekarang maju. Jika kita lihat, saat ini banyak wanita selain juga berkarir tinggi juga bisa meraih nobel, bisa menciptakan sesuatu itu semua tidak lepas dari jasa Kartini.

Q : Jadi menurut dokter, Kartini modern atau Kartini era sekarang itu seperti apa ?

A : Seseorang disebut Kartini modern apabila wanita ini adalah wanita yang cerdas yang mandiri termasuk secara finansial, dan berpendidikan tinggi, mampu menyokong suami dan mampu mendidik anak yang baik. Bisa dikatakan semua mampu dilakukan secara seimbang

Q : Dalam dunia kedokteran, adakah diskriminasi terhadap dokter wanita ?

A : Menurut saya sampai sekarang masih ada walaupun tidak banyak, misalnya di Indonesia, banyak masyarakat yang menganggap bahwa dokter jika wanita, masih sering dianggap perawat dan dipanggil “suster”. Saya masih merasakan saat pendidikan dokter spesialis. Jadi katakan saat berjalan antara dokter pria dan wanita , walaupun bajunya sama-sama jas putih, yang wanita dipanggil sus sedangkan pria akan dipanggil dok ”. Untuk spesialis tertentu, seperti bedah tulang misalnya mayoritas adalah dokter pria demikian pula dengan bedah syaraf , masih didominasi oleh kaum pria

Q : Adakah diskriminasi dari rekan dokter ?

A : Kalau perlakuan sejawat dokter, syukurlah sudah saling menghargai berdasarkan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki. Bahkan menurut saya, dokter pria akan memberi toleransi kepada kami para wanita , apabila misalnya jika ada anak yang sakit, ataupun saat kehamilan , biasanya kolega dokter pria sangat suportif dan memahami .

Q : Apakah perlu memperingati Hari Kartini ?

A : Perlu, Hari Kartini merupakan reminder bagi masyarakat, bahwa antara pria dan wanita sama sama sederajat dan tidak ada bedanya. Wanita pun mampu berkarya sama seperti pria. Walaupun sekarang kita sudah bisa melihat pemerataan. Tetapi masih ada pandangan bahwa wanita itu tidak bisa melakukan sesuatu yang sama seperti pria dan itu berlaku dimanapun. Merayakan hari Kartini akan mengingatkan kita bahwa karena perjuangan Kartini, wanita bisa bersekolah, bisa cerdas, dan anda sebagai wanita juga bisa melakukan apa saja. Jika jaman dahulu seorang ibu Kartini bisa, andapun sanggup