Kuliah adalah hal utama bagi mahasiswa. Akan tetapi, bagaimana bila mahasiswa tersebut adalah seorang mahasiswa atlet? Mereka harus membagi waktu sebagai mahasiswa dan juga sebagai atlet. Terlebih bila ada acaraseperti multy event olahraga, seperti PON XIX Jabar baru-baru ini yang mengharuskan para mahasiswa atlet untuk berlatih secara intens. Pada saat lomba pun, mereka bisa meninggalkan bangku kuliah dalam waktu cukup lama. Bagaimana mereka bisa terus mengikuti perkuliahan di tengah padatnya jadwal sebagai atlet? Untuk menjawab semua itu, Stefanus Soegiharto, S.T., M.Scselaku Direktorat Pengembangan Kemahasiswaan menjawabnya dengan satu kalimat. Ubaya memiliki support bagi mahasiswa atlet.

Q : Apa saja yang dilakukanUbayauntuk pengembangan atletmahasiswa?

A :Bagi siswa SMA/SMK/sederajat yang memiliki prestasi olahraga di tingkat propinsi, nasional atau internasional dapat diterima di Ubaya melalui JPMK (Jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan) Prestasi Olahraga. Siswa yang diterima akan memperoleh beasiswa prestasi USP dan UPP semester I yang besarnya sesuai dengan prestasi yang diraih. Melalui jalur ini, sudah ada persyaratan yang harus dipenuhi. Beasiswanya bisa berbeda karena ada yang masuk dengan prestasi tingkat internasional, nasional, maupun hanya tingkat daerah.

Q : Bagaimana dengan yang sudah resmi menjadi mahasiswa Ubaya?

A : Setelah menjadi mahasiswa Ubaya, bagi atlet mahasiswa yang berprestasi dengan membawa nama Ubaya disediakan beasiswa prestasi olahraga. Bagi cabang olahraga tertentu dengan pembinaan khusus, seperti bola basket dan futsal, keaktifan dalam mengikuti latihan rutin juga menjadi parameter penilaian untuk memperoleh beasiswa ini.

Q : Selain support secara financial, support apa lagi yang bisa diberikan bagi para mahasiswa atlet ini?

A :Setelah menjadi mahasiswa Ubaya, bagi atlet mahasiswa yang berprestasi dengan membawa nama Ubaya disediakan beasiswa prestasi olahraga. Bagi cabang olahraga tertentu dengan pembinaan khusus, seperti bola basket dan futsal, keaktifan dalam mengikuti latihan rutin juga menjadi parameter penilaian untuk memperoleh beasiswa ini.

Q : Seperti apakah support secara akademis ini?

A : Atlet mahasiswa harus mengajukan permohonan ke Dekan melalui Wakil Dekan untuk mendapatkan Surat Ijin Dekan dengan membawa Surat Tugas (jika bertanding atas nama universitas) atau Surat Keterangan dari DPK (jika bertanding atas nama daerah atau negara). Wakil Dekan akan berkoordinasi dengan Dosen Pengampu Matakuliah yang bersangkutan untuk memberikan kegiatan pengganti kuliah atau pengganti nilai jika tidak mengikuti ujian yang bias diperoleh melalui nilai tugas, kuis, ujian susulan atau evaluasi lainnya. Semua itu dilakukan dengan memperhatikan kaidah akademik. Jadi tidak ada nilai yang muncul tiba-tiba. Standar kelulusan sama untuk seluruh mahasiswa.

Q : Dalam ajang PON atau turnamen lain, mahasiswa Ubaya bertanding di bidang apa saja Pak?

A : Untuk PON XIX ini paling banyak di cabang bola basket. Cabang-cabang lainnya seperti atletik, futsal, renang, wushu dan karate. Para atlet mahasiswa Ubaya bukan hanya membawa nama Jawa Timur, tapi berbagai propinsi di Indonesia. Untuk kejuaraan yang lain ada yang menggeluti cabang pencak silat, sepak bola, kempo, jiu jitsu, taekwondo, bridge bahkan ada rally mobil.

Q : Terakhir, adakah pesan-pesanbagi mahasiswa Ubaya yang sekaligus menjalankan profesi sebagai atlet?

A : Atlet mahasiswa tidak sama dengan mahasiswa biasa. Kalau mahasiswa biasa punya waktu untuk “bersenang-senang” selain untuk belajar. Atlet mahasiswa harus mau mengurangi waktu “bersenang-senangnya” dan menggantikannya dengan belajar karena waktu mereka sebagian besar dihabiskan untuk berlatih dan bertanding. Dukungan yang diberikan Ubaya hendaknya dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengumpulkan bekal yang berguna bagi masa depan mereka, khususnya setelah mereka tidak lagi menjadi atlet. Ingat, masa keemasan atlet tidaklah lama!(tea)