Sepak terjang Indonesia dalam hal bernafaskan pornografi sudah tak diragukan lagi. Sekarang ini produk-produk berbau pornografi semakin menjamur, mulai dari situs porno, video syur, dan Blue Film. Yang memprihatinkan, konsumennya sebagian besar berasal dari kaum muda. Tentu saja hal tersebut dapat memberikan dampak yang merugikan bagi mereka dan masyarakat. “Misalnya saja ada anak yang setelah menonton BF akan melakukan tindakan perkosaan, bahkan disusul dengan pembunuhan terhadap korbannya karena takut ketahuan,” ujar Prof Dr Yusti Probowati, psikolog dari FPUbaya.

Untuk meminimalisir dampak mengerikan seperti di atas, peran orang tua sangat besar untuk memberikan arahan dan bimbingan, supaya si anak tidak ikut terbawa arus yang salah. Remaja mudah terpengaruh lingkungan sekitar, sebab usia puber merupakan masa pencarian jati diri, ditambah lagi kepribadian mereka masih labil. Untuk membentuk suatu individu dengan kepribadian yang kuat, keluarga harus dapat memenuhi kebutuhan emosi anak berupa kasih sayang dan perhatian.Yang penting juga, orang tua diharapkan dapat menjadi teladan. Jika kondisi keluarga seperti ini, niscaya anak akan bertumbuh menjadi orang dengan self-control yang baik. “Memang anak yang bermasalah kebanyakan berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah ke bawah. Mereka jadi kurang diperhatikan, karena orang tua sibuk mencari nafkah. Misal ibu menjadi TKW, dan bapaknya kabur entah kemana,” jelas perempuan yang aktif melakukan pendampingan di Lapas anak, Blitar tersebut.

Peran sekolah sebagi lembaga pendidikan formal juga tak boleh dilupakan, misal dengan memberikan materi “sex education” secara benar. “Sekolah diharapkan tidak hanya mementingkan dari aspek kognitif saja, melainkan afektif juga,” tegas kaprodi program magister Psikologi ini. Selain itu, beliau juga mengkritisi media yang terkadang mengekspos secara besar-besaran hal-hal tidak senonoh hanya untuk mendapatkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan. “Karena itu masyarakat harus pintar memilih,” lanjut alumnus UGM ini.

Terakhir, dosen yang sudah mengabdi untuk Ubaya selama 20 tahun ini memberikan saran bagi penerapan hukum di Indonesia. Seharusnya pelaku kejahatan seksual tidak hanya dipenjara, namun mereka harus direhabilitasi untuk menyembuhkan jiwanya. “Percuma saja ditahan, tetapi tidak direhab, setelah bebas pasti mereka akan mengulangi kesalahan yang sama,” tutup wanita ramah ini. (mry)