Pada tanggal 25-27 Juli 2016 ini, sebuah eventbesar diadakan di Surabaya. Eventberskala internasional ini merupakan sebuah pembuka jalan bagi Surabaya untuk menjadi kota MICE (Meeting Incentive Conference Exhibition). Hal tersebut seperti yang dituturkan oleh Drs.ec. Sujoko Eferin, M.Com(Hons)., M.A., Ph.D., Direktur Kerjasama Kelembagaan, Universitas Surabaya.

Q : Mengapa Surabaya dipilih sebagai tempat berlangsungnya Preparatory Committe UN Habitat III?

A : Menurut pendapat saya, Surabaya dipilih sebagai tempat berlangsungnya eventini pertama karena Indonesiamemiliki laju pertumbuhanperekonomian yang tinggi. Lokasi yang dipilih memiliki kriteria pertumbuhan ekonomi sejalan dengan peningkatan pemerataan kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini sesuai dengan kondisi Indonesia. Lalu, mengapa yang dipilih adalah kota Surabaya? Ada dua jawaban untuk pertanyaan ini. Pertama, Surabaya merupakan kota andalankeduadi Indonesiauntuk kekuatan ekonomi. Yang kedua, Surabaya memiliki perubahan wajah yang amat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Q : Perubahan apa saja yang telah terjadi pada Surabaya?

A : Yang paling terlihat adalah pada taman-taman kota. Pembenahan taman-taman kota ini sudah merubah wajah kota Surabayamenjadi jauh lebih nyaman. Tak hanya secara tampilan, hal inijuga mengurangi masalah sosial yang ada. Pertumbuhan ekonomi tanpa diikuti wajah kota yang ramah membuat sebuah kota berwajah “garang” dan menimbulkan banyak masalah sosial. Sebaliknya, wajah yang lebih “ramah’ ini membuat kota lebih inklusif untuk semua kalangan.

Q : Selain taman kota, adakah perubahan lainnya yang terjadi?

A : Tentu saja ada dan perubahan ini benar-benar besar, yaitu ditutupnya lokalisasi Dolly yang merupakan salah satu yang terbesar se-Asia Tenggara. Penutupan lokalisasi ini sudah mengurangi sangat banyak masalah sosial. Apalagi dengan ditutupnya lokasi tersebut, bisa dibangun sarana prasarana publik di sana. Orang-orang yang sebelumnya mencari uang di sana dibina dan dikembangkan kemampuannya. Menurut saya, ditutupnya lokalisasi dan pembangunan taman-taman ini adalah dua perubahan wajah terbesar yang terjadi di Surabaya.

Q : Ternyata itu alasannya, lalu menurut Bapak, apa dampak dari acara tersebut bagi Surabaya?

A : Surabaya sendiri ingin menjadi kota MICE(Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions). Surabaya ingin menjadi pusat penyelenggaraan acara pertemuandan berbagaieventlainnya di tingkat internasional.Tentunya ini berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, yaitu pembangunan di bidang industri dan manufaktur. Dengan diadakannya Preparatory Committe UN-Habitat IIIini di Surabaya, Surabaya akan mendapat perhatian dunia Internasional. Nantinya ke depan, Surabaya akan dinilai mampu untuk menjadi tempat diadakannya banyak event. Jadi, Preparatory Committe UN-Habitat IIIini bisa dikatan sebagai pembuka jalan bagi Surabaya untuk menjadi kota MICE.

Q : Kalau tadi Bapak berkata bahwa Preparatory Committe UN-Habitat IIIini adalah sebuah awal, lalu apa yang harus dilakukan agar Surabaya benar-benar bisa menjadi kota MICE?

A : Isi dari Preparatory Committe UN-Habitat III ini adalah membangun komitmen untuk membuat sebuah tempat yang layak huni bagi masyarakat. Dan itu semua dilihat dari banyak aspek, mulai dari lingkungan, sosial, dan ekonomi. Nah, komitmen itu harus ditularkan ke masyarakatnya. Ditularkan dengan cara bagaimana? Dengan bantuan dari pengusaha-pengusaha dan universitas.

Q : Apa yang harus dilakukan oleh para pengusaha untuk turut membantu Surabaya menjadi kota MICE?

A : Para pengusaha, terutama para pengusaha agen perjalanan bisa mengadakan paket wisata sekaligus konferensi. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi Surabaya yang sejauh ini bertumbuh ke arah hospitality industry. Banyaknya hotel-hotel, mall, cafe, dan restaurant bisa dimanfaatkan untuk paket wisata dan konferensi. Orang yang datang ke konferensi biasanya tidak mengharapkan berlibur, namun adanya hiburan seperti pergi ke cafe yang bagus dan menginap di hotel yang nyaman bisa menjadi daya tarik.

Q : Sedangkan dari sisi universitas apa yang harus dilakukan?

A : Universitas membantu pelaksanaan kota MICE bisa dari banyak hal. Hal yang paling sederhana misalkan seperti mengadakan seminar/simposiumyang besifat internasional. Hal ini seperti yang sudah dilakukan oleh Ubayamelalui berbagai seminar/simposium internasional dalam 5-10 tahun terakhir. Untuk acara Preparatory Committe UN-Habitat IIIini, kita berpartisipasi dengan menyelenggarakanseminar Urban Ecosystem and Resourcesdan juga Social Enterprise for Sustainable Urban Developmentpada tangal 22-23 Juli 2016 kemarin dan pesertanya cukup banyak.

Q : Apakah ada hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk membuat Surabaya menjadi kota MICE?

A : Sebenarnya ada satu hal yang masih menjadi PR bagi Surabaya dan masih belum terselesaikan, yaitu transportasi umum. Karena pengembangannya belum ada, kendaraan pribadi menjadi pilihan untuk berpindah tempat dalam kota. Padahal adanya transportasi publik ini penting untuk mengurangi kemacetan. Jadi walaupun ada event-eventkhusus dan ada jalan yang ditutup tak perlu khawatir terjadi kemacetan apabila transportasi umum sudah dikembangkan dengan baik. Sedangkan untuk masyarakat Surabaya sendiri, perlu perubahan attitudedalam melihat keberadaan orang asing. Kita perlu untuk bersikap lebih ramah, terbukadan welcometerhadap orang asing dan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. Terkadang ungkapan-ungkapan spontan (termasuk candaan/olok-olok) saat melihat orang asing atau godaan untuk mengakali mereka sekedar mengambil keuntungan finansial jangka pendek justru membahayakan kepentingan jangka panjang kita sendiri. Apa yang mereka rasakan akan menentukan rekomendasi positif/negatif ke kenalan mereka tentang Surabaya.

Wah, ternyata eventbesar Preparatory Committe UN-Habitat IIIini hanya permulaan. Masih banyak hal yang perlu dilakukan agar Surabaya benar-benar berhasil menjadi kota MICE. Mari kita bantu Surabaya untuk mewujudkan dirinya sebagai kota MICE. (tea)