Tidak terasa menjelang akhir tahun, kita sudah dekat kembali dengan suatu hari peringatan yang sudah sering kita lalui, yakni hari Ibu. Namun, semakin berlalu setiap tahun mungkin sempat suatu pemikiran muncul di benak kita: “Masih perlukah merayakan hari Ibu?” Nah, kali ini tim Warta Ubaya berkesempatan untuk mewawancarai seorang dosen, seorang pemimpin, yang kental dengan jiwa dan sifat-sifat keibuan dalam dirinya. Berikut adalah wawancara kami dengan Dr. Yoan Nursari Simanjuntak, S.H., M.Hum., Dekan Fakultas Hukum Universitas Surabaya yang sedang menjabat. Silakan disimak!


 

Q: Apa sih arti seorang ‘Ibu’ menurut bu Yoan?

Seorang ibu itu adalah sosok yang sangat penting ya, baik dalam aspek mikro ataupun makro. Jika kita berbicara mikro, ibu berperan penting dalam melahirkan seorang anak, dan berperan penting sebagai istri bagi suaminya, sehingga andil seorang ibu cukup penting di dalam sebuah keluarga tunggal.

Nah kalau secara makro, ini menarik. Bangsa itu dibangun dari ratusan ribu atau bahkan jutaan keluarga-keluarga. Secara sederhana, bangsa akan kuat kalau keluarga itu kuat. Mengapa? Karena peran ibu dalam mendidik tumbuh kembang anak dalam masing-masing keluarga akan membuat anak itu semakin berkembang dengan positif, karena anak itu adalah calon penerus bangsa nantinya kan?

Oleh karena itu, seorang ibu haruslah kuat dan berkarakter supaya bisa membimbing anak. Mengapa? Ya karena itu tadi, seorang ibu secara tidak langsung berperan penting dalam pembangunan bangsa-bangsa.


 

Q: Wah keren. Terus, kalau menurut Ibu sendiri masihkah “Hari Ibu” ini penting untuk dirayakan?

Hari ibu adalah refleksi penghargaan dan cinta kasih seorang ibu, sampai-sampai ada kata yang bertuliskan: “Hidup itu bermula dari ibu.” Hal ini pun bukan secara gender menyanjung tinggi perempuan, namun lebih kepada penghargaan dari peran perempuan sendiri di dalam keluarga. Memahami peran ibu tidak boleh disepelekan.

Pada 22 Desember waktu peringatan Hari Ibu, sebaiknya kita tidak merayakannya secara seremonial saja, namun kita harus memberikan dukungan yang lebih besarterhadap para ibu. Mungkin seharusnya ada acara yang bertujuan khusus untuk menumbuhkan karakter & menambah keterampilan dari ibu-ibu. Misal nih, seorang ibu kan biasanya memegang uang dalam keluarga, nah ada baiknya kalau ada pelatihan khusus mengenai cara mengelola uang yang ditargetkan khusus untuk ibu-ibu sehingga taraf keahlian ibu bisa meningkat. Pelatihan semacam ini saya rasa perlu sehingga peran dari ibu dalam keluarga bisa meningkat, sehingga membuat anak-anak yang dihasilkan lebih berkualitas. Jadi harapannya 22 Desember ini tidak sekedar seremonial belaka, namun lebih nyata, dalam bentuk support terhadap seorang ibu.


 

Q: Lalu, apa perlakuan khusus di hari Ibu yang anda berikan untuk ibunda dari bu Yoan sendiri?

Nggak ada ya, karena itu adalah ikatan keluarga. Sudah seharusnya saling support antara saya dengan mama, adanya interaksi dengan ibu dan anak, saling memperhatikan, sudah sepantasnya diberikan dalam interaksi sehari-hari dan tidak harus menunggu momen khusus seperti Hari Ibu. Malahan biasanya kalau di Hari Ibu saya hanya mengucapkan saja melalui telepon, karena ibu saya berposisi di luar Surabaya.


 

Q: Kalau dari bu Yoan sendiri, pernah nggak ada suatu penyesalan yang begitu mendalam terhadap ibunda?

Kalau penyesalan yang begitu mendalam itu tidak ada ya. Menurut saya pribadi sangatlah aneh kalau di dalam keluarga itu ada hal yang dipendam sekian lama sampai-sampai membuat anggotanya saling tersakiti, karena keluarga adalah tempat untuk saling memahami. Ada dialog yang tidak klop, ada pandangan yang berbeda, tetapi tetap semua hal tersebut dikomunikasikan supaya tidak ada hal yang ‘ngganjel’di hati masing-masing.


 

Q: Mantap. Lalu kalau dari interaksi ibu Yoan dengan ibunda, apakah ada peristiwa yang berkesan sehingga membuat anda semakin menyayangi ibu anda?

Apa adanya diri saya sekarang, pasti itu semua bentukan dari orang tua. Sehingga, dalam diri sekarang saya ini pasti ada suatu bagian dari orang tua saya yang hidup dalam diri saya, yang saya jalani sampai sekarang. Kalau dalam diri saya, kebetulan saya paling dipengaruhi oleh mama. Mulai dari nilai, cara pikir, cara kerja saya, itu meniru mama. Singkatnya, saya ada dalam posisi sekarang ini karena ibu saya.

Dulu pernah dapat nilai jelek takut dimarahi, sebab mama saya pada waktu itu memang ketat, tetapi sekarang saya tahu bahwa hal itu dilakukan supaya saya melakukan hal yang terbaik. Soal lain adalah soal diary. Dulu waktu kecil saya disuruh menulis diary. Mungkin dianggap sentimentil namun belakangan saya semakin tahu bahwa itu cara mama untuk mengajari saya menulis.


 

Q: Lalu dari Ibu sendiri, apa ada pesan-pesan untuk mahasiswa-mahasiswi mengenai statusnya sebagai anak?

Ya, kalau saya bilang ‘hormatilah orang tuamu’ itu terkesan klise ya? Sudah biasa dan banyak sekali orang yang bilang seperti itu. Namun saya lebih menekankan pentingnya anda menghargai dan menghormati peran ibu sendiri. Berhentilah bicara dan berlaku kasar kepada ibu. Memahami bahwa nantinya mahasiswi-mahasiswi ini akan menjadi seorang ibu, dan mahasiswa-mahasiswa ini nantinya pun akan mempunyai seorang istri yang berperan menjadi seorang ibu juga. Jadi penting bagi mahasiswa-mahasiswi ini untuk mengetahui dan menghargai betapa pentingnya peran seorang ibu dalam keluarga.


 

Q: Pertanyaan terakhir bu, apa pengorbanan terbesar yang telah anda berikan untuk anak?

Wah saya harus protes dengan pertanyaannya ya. Mengapa? Karena menurut saya semua yang dilakukan ibu dan anak itu bukanlah pengorbanan. Sudah memang seharusnya apa yang dilakukan ibu itu mengalir dari hatinya, sebuah bukti dan tanda cinta kasih seorang ibu. Jadi menurut saya label ‘pengorbanan’ itu tidak pantas diberikan, karena seorang ibu pasti rela melakukan apapun untuk anaknya.

Oleh karena itu setiap kali ada mahasiswa yang kuliahnya tidak beres dan menghadap saya beserta dengan orang tua, saya kasihan kepada orang tuanya, kepada ibu terutamanya. Karena sebenarnya orang tua itu tidak ada yang dipikir selain anak. Istilahnya, kalau anak sakit ginjal pun seorang ibu pasti rela untuk memberikan ginjalnya supaya anaknya bertahan. Kalaupun berkekurangan, untuk kepentingan anak pasti akan dicukup-cukupkan. Jadi sederhananya, apapun yang dilakukan ibu bukanlah sebuah pengorbanan, melainkan sebuah bukti cinta kasih seorang ibu kepada anak-anaknya.

Nah, sudah tahu apa pandangan salah satu dekan kita ini terhadap hari ibu dan ibu? Lalu pertanyaan sekarang kembali kepada kita, menjelang hari ibu mendatang dan hari-hari selanjutnya, bisakah kita, mahasiswa, menjadi insan yang berbakti dan menghargai peran seorang ibu dalam hidup kita? Selamat hari ibu! (sml)