Pada tanggal 16-19 Juni 2011 yang lalu diselenggarakan 5th Conference of Asian Association of Schools of Pharmacy. Acara yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia menunjuk Sekolah Farmasi ITB menjadi tuan rumah untuk merepresentasikan seluruh institusi pendidikan tinggi farmasi di Indonesia yang kini berjumlah 66. Acara yang bergengsi ini diikuti peserta dari berbagai negara di benua Asia seperti Jepang, Singapore, Taiwan, Thailand, Pakistan dan Malaysia. Tidak ketinggalan dari Fakultas Farmasi di Indonesia mulai dari Medan sampai Makassar.

Pada kesempatan ini, dua orang dosen Fakultas Farmasi Ubaya dan seorang peneliti PIOLK tampil menyampaikan makalah. Penelitian dengan judul THE EFFECT OF STERILIZATION DEXTROSE INFUSION ON THE FORMATION 5-HMF dan DEVELOPMENT AND EVALUATION OF BUCCOADHESIVE METRONIDAZOLE TABLETS diusung oleh Alasen Sembiring, M.Si., Apt. dan Agnes Nuniek Winantari, M.Si., Apt. Sedangkan Sylvi Irawati, M.Farm-Klin., Apt dari PIOLK, PHARMACY STUDENTS LEARNING STYLE AND THEIR PREFERENCES TOWARD ACTIVITIES IN PHARMACEUTICAL CARE MODEL LEARNING PROCESS.

 

Acara yang dibuka oleh Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedianingsih diikuti lebih dari 200 peserta. Dalam sambutannya Menkes menyampaikan keinginannya, pengobatan herbal bisa masuk pada layanan kesehatan formal di Rumah Sakit dan Puskesmas di Indonesia. “Sejak tahun lalu Kementerian Kesehatan sudah memulai layanan herbal di sejumlah daerah di Provinsi Jawa Tengah. Ada sekitar 30 dokter yang telah kita latih untuk memberikan layanan herbal”, kata Endang saat membuka acara di Aula Barat Institut Teknolog Bandung. Menkes menganjurkan masyarakat dan layanan medis menggunakan obat herbal dan jamu dalam mencegah penyakit seperti hipertensi, diabetes dan lain-lain. Menurut Endang, obat herbal sebenarnya mampu mencegah agar penyakit tidak menjadi lebih berat. “Tidak menyembuhkan secara langsung seperti obat (modern)”, ucapnya.

Menurut Endang, pelayanan kefarmasian merupakan salah satu pilar di dalam pelayanan kesehatan, selain pilar kedokteran dan keperawatan. Bahkan semestinya, apoteker ikut mendampingi pasien bersama dokter untuk visitasi dan memberikan resep obat terbaik bagi pasien. Pesan Endang bagi Apoteker Indonesia, “Apoteker jangan hanya menunggu resep dari dokter, tetapi juga visite ke pasien untuk cross check tepat atau tidaknya obat yang diresepkan dokter”. Manfaatnya untuk meningkatkan penggunaan obat generik, dan juga untuk menghindari penjualan obat secara langsung dari dokter (dispensing) yang selama ini merupakan pelanggaran klasik/kronis. Saat ini standar pelayanan rumah sakit besar diseluruh dunia sudah mengarahkan apoteker ke patient oriented. Harapan Menkes, hasil konferensi AASP ini diharapkan bisa menjadi masukan untuk perkembangan kesehatan bukan hanya di Asia tetapi juga di dunia.

Konferensi dua tahunan yang kelima Perhimpunan Perguruan Tinggi Farmasi se-Asia ini menampilkan beberapa pembicara, Ir. Ferry A. Soetikno, MBA., Managing Director of PT. Dexa Medica dan Executive Vice President American Association of Colleges of Pharmacy USA, Lucinda L. Maine, Ph.D., R.Ph. Dalam presentasinya Lucinda menyatakan, dosen fakultas farmasi harus senantiasa mendisain kurikulum dan strategi pembelajaran yang melibatkan mahasiswa secara aktif. Dalam perkuliahan, para dosen harus menantang mereka untuk menerapkan informasi yang diperoleh di perkuliahan dalam pelayanan kefarmasian pada kasus pasien yang kompleksitasnya semakin meningkat. Selain itu masih ada beberapa invited speakers diantaranya Ms. Debra Rowett, Chair of Accreditation Committee Australian Pharmacy Council yang menyampaikan informasi akreditasi perguruan tinggi farmasi di Australia. Di negara kanguru tersebut akreditasi dibagi menjadi tiga tingkat, meliputi Preliminary Accreditation, Provisional Accreditation dan Full Acceditation.