Lima windu sudah Universitas Surabaya menapak di jalan pendidikan. Pada 11 Maret 2008 yang lalu, kampus yang telah menjadi ikon Surabaya ini telah merayakan ulangtahunnya ke-40. Untuk itu, sebuah buku dengan tajuk Meretas Jalan Internasionalisasi diluncurkan, Jumat (17/01).

Buku yang ditulis NANANG KRISDINANTO ini merupakan sekuel buku pertama yang terbit di tahun 1999 berjudul Membangun paradigma Baru : 30 Tahun Universitas Surabaya.

Berbeda dengan buku pertamanya, buku sekuel kedua ini, selain banyak bercerita tentang prestasi yang diraih, juga berkisah tentang visi internasionalisasi yang ingin diraih Universitas Surabaya. Globalisasi dalam konteks pendidikan tinggi, disebut NANANG, hadir dalam 2 wajah. Yang pertama berwajah ramah dengan tawaran inovasi dan internasionalisasi, dan yang kedua datang dengan wajah kejam bak Leviathan dalam terminologi THOMAS HOBBES.

Wajah kedua ini membuat lembaga pendidikan mau tidak mau harus berkubang dalam lumpur komersialisasi, menjauh darimisi filantropinya. Namun bagaimanapun juga tantangan ini harus dihadapi, dan Ubaya dalam 40 tahunnya kini, kata NANANG, tengah berjalan mencari bentuk internasionalisasinya.

“Tidak isolatif, tapi juga tidak terkooptasi dengan globalisasi. Dalam 10 tahun terakhir, Ubaya menerapkan misi internasionalisasinya dengan prinsip equality. Ini bisa dilihat dengan dibentuknya Hubungan Internasional dan International Village, pengembangan program , dll,” kata NANANG.

Buku setebal 527 halaman ini juga menalieratkan misi yang dibawa founding father Ubaya, Prof. Mr. R. BOEDISOESETYA Rektor Pertama Ubaya, is Volat Propriis, terbang dengan sayap sendiri.(edy)

Dikutip dari suarasurabaya.net, 17 Januari 2009