Universitas Surabaya (Ubaya) tahun ini telah memasuki usia 40 tahun. Dalam peringatan puncak dies natalis hari ini (17/1), Ubaya me-launching sebuah buku berjudul 40 Tahun Ubaya "Meretas Jalan Internasionalisasi". Buku tersebut mendokumentasi prestasi hingga perjalanan menuju internasionalisasi kampus. Di antaranya, program International Village.

UBAYA sebetulnya merupakan kelanjutan Universitas Trisakti Surabaya yang didirikan pada 1966 oleh tokoh-tokoh masyarakat, pendidik, pengusaha, dan pemerintah. Namun, pada 1968, nama Universitas Trisakti berubah menjadi Univesitas Surabaya yang disingkat Ubaya. Pembangunan kampus di Jalan Ngagel Jaya Selatan pada 11 Maret 1968 menjadi penanda hari ulang tahun kampus itu.

Selain itu, universitas yang memilih 12 ribu mahasiswa tersebut memiliki kampus di Jalan Rata Kalirungkut dan Trawas, sebuah daerah pegunungan yang digunakan sebagai outdoor campus. Sejalan dengan tuntutan, Ubaya terus mengembangkan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia secara berkesinambungan.

Salah satunya, penyediaan International Village. Yakni, suatu konsep yang menyatukan pusat informasi pendidikan dan kebudayaan internasional di bawah satu atap untuk kemudahan akses publik. Konsep pionir tersebut tidak hanya memudahkan warga metropolis dan Jatim, tapi juga warga seluruh Indonesia, bahkan masyarakat international.

"Secara umum, IV (International Village) ini bertujuan mendukung pengembangan persahabatan dan saling pengertian antara masyarakat Indonesia dengan berbagai bangsa dan budaya lain," kata Rektor Ubaya Prof Wibisono Hardjopranoto kemarin (16/1).

Wibisono mengatakan, manfaat dari IV itu sangat besar. Selain kampus berpeluang menjalin hubungan baik dengan perguruan tinggi dari luar negeri, mahasiswa dan dosen juga dapat memanfaatkan dan mencari informasi di IV secara cuma-cuma. "Misalnya, informasi beasiswa sekolah ke luar negeri bisa diketahui di sini," paparnya.

Koordinator Kantor Hubungan Internasional Ubaya Adi Tedjakusuma menambahkan, menuju internasionalisasi merupakan komitmen kampus Ubaya. "Kami mengajak kedutaan negara-negara lain untuk menempatkan institusi nirlaba atau nonprofit yang memberikan layanan informasi dalam bidang pendidikan dan kebudayaan di masing-masing negaranya," kata Adi.

Saat ini, di IV Ubaya ada enam wakil negara yang bergabung. Di antaranya, Australian Education Centre (Australia), Canadian Education Centre (Kanada), Deutscher Akademischer Austauschdienst (Jerman).

"Layanan IV ini dibuka untuk umum. Mahasiswa, dosen, dan orang umum bisa memanfaatkan. Kita bisa leluasa bertanya tentang bagaimana perguruan tinggi di masing-masing perwakilan negara itu," ujarnya. Bahkan, mahasiswa akan dibantu dalam proses pendaftaran apabila ingin mendaftarkan diri di perguruan tinggi luar negeri yang ada. Layanan IV Ubaya itu buka Senin-Jumat, mulai pukul 09.00-16.30.

"Perwakilan ini bukan agency. Ini perwakilan resmi masing-masing negara yang tidak memungut biaya," ujarnya.

Selain launching buku tersebut, hari ini diselenggarakan diskusi panel di Le Ballroom Laguna Square, Jalan Kejawan Putih, Mutiara Pakuwon City, Surabaya. Pembicaranya adalah Jeffrey M. Loree (vice consul, consulate general of The United State of America), Dahlan Iskan, (CEO Jawa Pos Group), dan Rhenald Kasali PhD (ketua program Pascasarjana Universitas Indonesia). (alb/hud)

dikutip dari Jawapos, 17 Januari 2009