SURABAYA, Barometerjatim.com – Beberapa hari ini ketersediaan energi menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Ini setelah pemerintah merilis jika cadangan energi fosil di Tanah Air akan habis dalam 12 tahun ke depan.

Kabar ini cukup mengkhawatirkan, sebab hingga kini masyarakat masih sangat bergantung pada energi fosil. Sedangkan untuk cadangan gas dan batu bara akan habis pada kurun waktu 30 dan 100 tahun.

“Pengembangan energi baru dan terbarukan sangat penting untuk menopang aktivitas ekonomi nasional,” ujar Anggota Komite II DPD RI, Ahmad Nawardi dalam Seminar Uji Sahih Penyusunan RUU Energi Baru dan Terbarukan di Universitas Surabaya, Selasa (12/9).

Salah satu potensi yang menjadi bidikan untuk dikembangkan adalah panas bumi. Sumber energi ini tersebar di sepanjang cincin Asia Pasifik yaitu Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

“Di Jatim potensi ini (panas bumi) cukup besar mencapai 1.296,8 megawatt. Selain itu masih ada potensi lain, seperti mikro hidro, matahari dan sampah untuk pembangkit listrik,” papar senator asal Madura itu.

Situasi ini, menurut Nawardi, perlu adanya aturan seperti undang-undang (UU) yang mampu mendorong pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Khususnya energi nir karbon di masa depan.

Optimalisasi Pemanfaatan

Sementara itu Kepala Bidang Energi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim, Kukuh Sujatmiko menegaskan jika potensi energi baru terbarukan sangat banyak di Jatim.

Di antaranya, panas bumi dengan potensi 1.200 mega watt, gelombang 1.200, air dengan potensi 138 MW, angin 165 MW, biogas 390 MW, biomassa 32 MW dan surya 25 MW.

Karena itu, pihaknya berharap dengan RUU ini mampu mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan. Sehingga, tidak terlalu bergantung pada energi fosil dan sumber energi lain yang ketersediaannya mulai menipis.

“Hingga saat ini kami sudah menggembangkan energi panas bumi, bio gas, mikro hidro dan sejumlah energi baru lainnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

www.barometerjatim.com