Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan akan bencana alam. Tak hanya rawan akan bencana alam, Indonesia juga rawan akan bencana sosial seperti kemiskinan dan konflik yang timbul sebagai akibat dari beragamnya etnis, agama, dan budaya yang ada di Indonesia.

Untuk itu, Sabtu, 24 September 2016Fakultas Psikologi Universitas Surabaya pun menyelenggarakan Seminar Nasional Penerapan Psikologi Bencana pada Masyarakat Urbandi ruang serba guna psikologi (SGFP). Seminarinimengundang pembicara yaitu Prof. Yusti Prabowati Rahayu, Psikolog, Dr. Hartanti, M.Si, Psikolog, Dra. Sri Siuni Sugoto, M.Si, PhD, Psikolog, dan Listyo Yuwanto, Psikolog dan juga Tanto Suhariyadi,beliau adalah seorang Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Mojokerto. “Narasumber yang kami pilih pun merupakan orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Prof. Yusti memiliki banyak pengalaman di bidang psikologi, Tanto Suhariyadi punya banyak ilmu berkecimpung di lapangan ketika bencana alam, Dr. Hartanti adalah orang yang memang ahli dalam hal intervensi, sedangkan Listyo juga memiliki pengalaman dalam terjun langsung ke lapangan sewaktu bencana alam dan memiliki concern yang tinggi terhadap bencana alam di Indonesia,” ujar Agnes selaku ketua panitia.

Dalam seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 70 peserta baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa ini, banyakhal menarik yang dibagikan seperti permasalahan/bencana yang sering terjadi di daerah urban, peran psikologi dalam menghadapi bencana pada masyarakat urban, pencegahan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)seperti sosialisasi dan simulasi bencana alam, langkah-langkah intervensi yang bisa dilakukan bagi korban bencana alam sehingga mereka tidak mengalami reaksi psikologis yang berat seperti depresi dan Post Traumatic Sympton Disorder atau dikenal dengan PTSD, penerapan psychological first aid pasca bencana, teknik evakuasi korban bencana, dan pertolongan pertama pada bencana. Tak hanya para narasumber yang membagikan informasi, tetapi para peserta call of paper juga diberikan kesempatan untuk membagikan informasi yang mereka dapatkan baik dari penelitian maupun hasil terjun lapangan.

“Kami berharap, melalui seminar ini, ada proses pertukaran informasi dari narasumber ke peserta. Peserta juga bisa tahu bahwa bencana dapat ditangani dan dicegah asal kita bisa lebih aware terhadap bencana. Sehingga ketika terjadi bencana, kita nggakbingung lagi dan lebih siap menghadapinya,” tutur Agnes.

Tak hanya peserta yang mendapatkan bekal saja, tetapi antar-narasumber pun saling memperoleh bekal dari seminar ini. “Seminar ini luar biasa karena saya memperoleh banyak informasi dari narasumber lain. Informasi-informasi ini pun dapat saya pakai ketika terjun ke lapangan,” ungkap Tanto Suhariyadi.