MOJOKERTO – Puluhan mahasiswa dan pengajar dari Asia, Eropa, dan Amerika mengikuti liburan musim panas ke sejumlah situs cagar peninggalan Kerajaan Majapahit. Selain itu, beberapa situs sejarah di Kediri dan Blitar juga akan menjadi sasaran mereka selama beberapa hari ke depan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari wisata pendidikan dengan tema Summer Program in Southeast Asian Art History & Conservation. Kegiatan ini diselenggarakan Universitas Surabaya (Ubaya) bersama The Nalanda-Sriwijaya Centre (NSC) at the ISEAS-Yusof Ishak Institute (Singapura), dan The School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London (Inggris).

"Kegiatan Summer Program ini dilakukan kedua kalinya dan temanya kali ini tentang sejarah seni Jawa kuno. Mereka akan dibekali materi setelah itu diskusi dan observasi di lapangan," ungkap Kepala UPC Kusworo Rahadyan saat mengunjungi sejumlah candi dan Museum Majapahit di Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan, Mojokerto, Selasa, (26/7/2016).

Kusworo mengatakan, kegiatan ini dipusatkan di Ubaya Penanggungan Center (UPC) yang merupakan unit lembaga baru di Kampus 3 Ubaya Training Center (UTC) di kaki Gunung Penanggungan, Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Namun, hari ini para mahasiswa dan pengajar itu diajak untuk mengunjungi situs-situs bekas peninggalan Majapahit.

"Mereka sebenarnya wisata, namun diisi dengan wisata pendidikan. Karena saat ini bertepatan dengan libur musim panas," imbuhnya.

Staf pengajar sejarah kuno dan arkeologi di Universitas Malang, Ismail Lutfi menjelaskan, kegiatan ini sangat berguna bagi dirinya dan masa depan situs ini sendiri. Sebab, dengan melibatkan para mahasiswa dan pengajar asing, mereka bisa saling bertukar pikiran dan memberikan masukan.

"Kami berusaha mendapatkan masukan dari teman-teman di belahan dunia dan mengambil manfaatnya. Kita harapkan akan dapat pengetahuan lebih banyak dalam kegiatan ini," ungkapnya.

Sementara, mahasiswa S-3 Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, Sophia menuturkan, wisata pendidikan ini sangat menarik baginya. Ia mengaku mendapatkan banyak hal. Terutama terkait dengan situs peninggalan kerajaan terbesar yang pernah menyatukan nuswantara itu.

"Banyak hal yang bisa saya dapatkan. Banyak situs atau struktur yang perlu diteliti baik kaitannya dengan agama maupun makhluk hidup zaman klasik di Jawa Timur ini," tandasnya. (ira)

Sumber: http://news.okezone.com