Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat(LPPM)Universitas Surabaya senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dalam pengembangan penelitian dan peningkatan produktivitas dari civitas akademika Ubaya demi pengabdian untuk masyarakat luas. Tepatnya Rabu, 10 Februari 2016, sejumlah dosen pengajar mengikuti Workshop Penulisan Buku Ajar yang diadakanoleh LPPM Ubaya, bertempat di Seminar Room,Gedung International Village Ubaya. Prof. Dr. Wahyu Wibowo, M.M.,hadir sebagai pembicara pada workshopyang dimulai tepat pukul 09.00WIBini.

Beliau adalah anggota tim penilai pada Program Hibah Penelitian Dosen, Kopertis Wilayah III Jakarta. Dalam menyampaikan materi, Wahyubanyak menyampaikan “kerikil tajam” dalam penyusunan buku ajar. “Awal dari semuanya, yakni judul. Tentunya dalam sebuah buku, yang pertama kali dinilai oleh pembaca adalah judulnya. Judul harus provokatif serta menarik minat pembaca,” jelasnya dengan gamblang.

Workshop Penulisan Buku Ajar ini sebenarnya bertujuan untuk membimbing dan mendorong potensi dosen pengajar khususnya di Ubaya sendiri. “Setiap tahun diadakan program hibah penelitian dosen, dan karya yang terpilih akan mendapatkan insentif. Ubaya membantu mengarahkan dan membimbing dosen pada tiap karya ilmiah maupun buku yang akan mereka susun, sehingga produktivitas dapat meningkat melalui penelitian,ungkap Utomo, S.S.,dari LPPM Ubaya.Bahkan menurut Utomo, buku-buku ajar yang telah disusun para tenaga pengajar Ubaya dapat digunakan olehmahasiswa Ubaya sendiri.

Selain masalah judul, Wahyuyang juga merupakan anggota tim pelatihan penulisan artikel ilmiah untuk dosen se-Indonesia dari DP2M Ditjen Dikti Depdiknas RI,menyoroti beberapa masalah lainnya seperti istilah asing yang tidak dijelaskan secara lengkap dan penerjemahannya yang kurang tepat, ungkapan bahasa yang tidak komunikatif, serta rujukan yang sudah usang.Wahyumenyampaikan materi dengan sangat interaktif, bahkan banyak diantara dosen pengajar sesekali mengacungkan tangan untuk bertanya, juga mengungkapkan ide dan pandangan yang mereka miliki.

Tak lupa dalam penyampaian materi, Wahyumemberikan beberapa contoh konkret melalui ilustrasi pada gambar, seperti penulisan berita utama pada surat kabar yang salah, papan peringatan dalam dua bahasa yang salah penerjemahan, serta kesalahan kecil lain yang sebetulnya fatal. “Sudah saatnya dosen Indonesia melahirkan teori dan dituangkan dalam karya, entah itu buku, jurnal, ataupun penelitian ilmiah. Dengan demikian wawasan mahasiswa ataupun siapapun yang membacanya akan lebih terbuka dengan penjelasan berbagai sumber, baik dalam maupun luar negeri,tutup Wahyu.(liv)