SURABAYA – Pemanfaatan robot kini tidak lagi sebatas membantu manusia di dunia industri. Robot juga bisa digunakan sebagai media terapi. You Natan dan Michelle Angelia Siswanto, mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya), tersebut membuat robot terapi autis.  Robot itu mereka namai Special Autism Robot for Kids (SPARK).

SPARK sekilas mirip manusia. Dia memiliki tangan, kepala, wajah, dan tubuh. Hanya, di bagian tubuh dan wajahnya masing-masing terdapat liquid crystal display (LCD). LCD tersebut menampilkan beberapa ekspresi layaknya manusia. Saat mesin SPARK berkata "senang", ekspresi senyum muncul di layar. Begitu pula saat robot mengatakan "marah". Ekspresi merengut pun akan muncul di LCD. "Ini salah satu penerapan metode face recognition saat melakukan terapi pada anak autis," jelas Michelle.

Menurut dia, SPARK merupakan media pembelajaran bagi anak yang mengidap autis. "Robot ini membantu mereka untuk mengenal ekspresi manusia. Agar mereka lebih peka saat berkomunikasi dengan orang lain," papar mahasiswi magister Fakultas Psikologi Ubaya tersebut. Michelle menambahkan, anak autis memiliki dunia sendiri. "Meniru gerakan dan ekspresi dari robot ini dapat membantu mereka untuk mengetahui berbagai ekspresi orang," ungkapnya.

Robot setinggi 41 sentimeter itu menerapkan empat jenis metode dalam melakukan terapi pada anak autis. Yakni, imi tation, joint attention, face recognition, dan vocalization. Pada penerapan imitation, anak diajarkan berbagai gerakan. Misalnya, mengangguk, menggeleng, makan, minum, mengangkat tangan, dan melambaikan tangan. "Robot ini dapat bergerak saat mesin mengeluarkan suara sesuai perintah. Jadi, perintahnya dikendalikan dari smartphone," jelas You Natan. (ara/c15/end)

Sumber: Jawa Pos, 11 Feb 2016