Prestasi Markus Hartono pada The 14th International Conference on QiR

Markus Hartono memanfaatkan teknologi untuk mempersingkat pelayanan di restoran. Caranya menempatkan gadget di semua meja. Hasil penelitiannya itu berbuah prestasi international best paper.

ZAHRA FIRDAUZIAH

IDE pemanfaatan gadget ini berawal dari belum bagusnya pela yanan kepada publik. Hal tersebut banyak dijumpai ketika berada di sebuah restoran. Setelah melakukan pemesanan, ada kalanya customer harus menunggu lama untuk bisa menyantap makanannya. Kondisi tersebut membuat customer dongkol dan tidak nyaman.

"Percuma saja masak annya enak, tapi pelayanannya lama," kata Markus Hartono ketika diwawancarai Rabu lalu (2/9). Dosen Fakultas Teknologi Industri Universitas Surabaya (Ubaya) itu mengatakan, pemilik industri kurang memahami kebutuhan konsumen secara menyeluruh. Yang dipentingkan hanya kelengkapan atau kecanggihan fasilitas dan peralatan modern. "Padahal, kebutuhan aspek emosional juga penting,” ujarnya.

Berdasar hal tersebut, Markus membuat penelitian. Dia berfokus meneliti lamanya pelayanan restoran di Kalimantan. Sebagai terobosan, laki-laki kelahiran 8 Maret 1978 itu memanfaatkan penggunaan gadget. "Satu meja disediai satu gadget," terang nya.

Gadget itu dibutuhkan ketika customer hendak memesan menu makanan maupun minuman. "Tinggal pilih menu yang sudah tersambung dengan kasir," jelas Markus. Terobosan tersebut dinilai lebih efisien tenakerja dan waktu. "Kita kan sering tidak nyaman kalau ditunggui pelayan waktu memesan menu," lanjutnya. "Kalau pesan pakai gadget, customer malah lebih suka," tambahnya.

Selain itu, penggunaan gadget mempercepat karyawan restoran untuk mengetahui menu yang sudah habis. "Ketika ada customer yang tanya, tinggal cek, dan tahu makanannya habis atau tidak," terang alumnus magister industrial and engineering
National University of Singapore itu. "Jadi, customer tak tunggu lama untuk tahu makanan yang ingin dipesannya masih ada atau habis," lanjutnya.

Terobosan tersebut dianggap lebih efisien. Karena itu, karyawan bisa lebih mobile dan mengerjakan tugas lainnya. Markus optimistis terobosannya tersebut dapat diaplikasikan dalam berbagai sektor. Bukan hanya pelayanan di sebuah restoran, melainkan juga pelayanan publik lainnya. "Rumah sakit, bank, sekolah juga bisa kok," ucapnya.

Hasil penelitiannya itu diberi judul The Extended Integrated Model of Kansei Engineering, Kano and TRIZ Incorporating Cultural Differences in Services. Paper itu berhasil memikat hati para juri ajang The 14th International Conference on QiR (Quality in Research). Dia pun mendapatkan international best paper dalam kompetisi yang berlangsung pada 10–13 Agustus lalu itu.

Markus berharap terobosan yang dilakukannya dapat ber kembang di Indonesia. Sebab, saat ini masyarakat Indonesia telah melek teknologi. "Sudah banyak aplikasi yang menerapkan software pada gadget. Go-Jek contohnnya,” paparnya. Dia pun akan berusaha memperbaiki paper tersebut. ”Yang penting, perlu tahu kebutuhan masyarakat apa sehingga dapat meng optimalkan pelayanan,” ucapnya. (*/c6/ai)

Sumber: Jawa Pos, 7 September 2015