Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair), Rudi Purwono, mengatakan, dari struktur APBD, Pemkot mengalokasikan sekitar 25% dari Rp7 triliun untuk belanja modal.

Menurut dia, ini menandakan adanya komitmen Pemkot untuk membangun sarana infrastruktur demi kepentingan publik. Misalnya, pembangunan jalan MERR II-C. Sebelum adanya jalan tersebut, daerah Surabaya timur relatif sepi. Kini setelah ada jalan tersebut, geliat ekonomi muncul ditandai dengan menjamurnya bisnis properti.

Pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya juga terus meningkat, yakni di atas ratarata 7%. Ini tentu menjadi daya tarik investor menanamkan modal. Tren positif ekonomi itulah yang menjadikan Kota Pahlawan sangat menjanjikan untuk berinvestasi. Di Surabaya, untuk berinvestasi sudah ditopang penyediaan sarana infrastruktur sebagai kota jasa dan perdagangan.

”Indikator sebagai kota ramah investasi adalah produk domestik regional bruto (PDRB), pendapatan asli daerah (PAD), fasilitas dan sarana penunjang, ritel dan pasar, serta nilai realisasi investasi tahunan,” katanya.

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair ini menambahkan, setidaknya ada tiga komponen utama penunjang ekonomi Surabaya. Di sisi lain, tingkat inflasi di Surabaya berada pada angka 7,52% pada 2013. Kendati terbilang agak tinggi, sejauh ini laju inflasi masih dalam taraf terkendali.

Terkait PAD Kota Surabaya bisa dibilang memuaskan. PAD Kota Surabaya memberi kontribusi 53,32% jika dikaitkan dengan total APBD. Sementara jika dibanding dana perimbangan yang diberikan pemerintah pusat, rasio PAD mencapai 191%.

”Melihat data ini, Surabaya bisa dikatakan sudah mandiri dan mampu menopang pilar-pilar bisnis. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menghubungkan pengusaha besar dengan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Surabaya harus mendorong UMKM menembus pasar yang lebih besar dengan metode kemitraan,” ujarnya.

Terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya) Eko Waluyo Suwardyono mengatakan, besaran APBD 2015 secara mikro harus mencapai sasaran dan target dalam meningkatkan pertumbuhan dari berbagai bidang.

Pasalnya, jika besarnya APBD tidak dapat menciptakan berbagai pertumbuhan di semua sektor, penggunaan dana tidak efisien. Serapan anggaran bukan hanya pada soal berapa persen pencapaiannya, melainkan pada target pertumbuhan.

”Dalam menggunakan anggaran APBD, Pemkot harus mampu menggerakkan perekonomian dan menyejahterakan masyarakat. Selanjutnya, bisa mengurangi jumlah pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.

Lukman Hakim

Sumber: http://www.koran-sindo.com

Copyright
© 2017 Universitas Surabaya. Artikel yang ada di halaman ini merupakan artikel yang ditulis oleh staf Universitas Surabaya. Anda dapat menggunakan informasi yang ada pada halaman ini pada situs Anda dengan menuliskan nama penulis (apabila tidak tercantum nama penulis cukup menggunakan nama Universitas Surabaya) dan memasang backlink dengan alamat http://www.ubaya.ac.id/2014/content/content/1453/Tren-Positif-Ekonomi.html