SURABAYA-SURYA-Bahasa Mandarin semakin dibutuhkan di dunia kerja global. Pembelajarannya saat ini sudah dimulai sejak pendidikan sekolah menengah atas (SMA) dan termuat dalam kurikulum lokal. Mewadahi serta meningkatkan kemampuan siswa SMA dalam bahasa Mandarin, Pusat Bahasa Universitas Surabaya (Ubaya) menggelar lomba pidato bahasa Mandarin, Sabtu (3/5). Acara yang dihadiri Konsul Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Fu Shui Gen ini diikuti 28 siswa dari 10 SMA se-Surabaya.

Direktur Pusat Bahasa Ubaya Besin Gaspar mengungkapkan bahwa konsul RRT sangat mendukung kegiatan itu. Bahkan ia berjanji membantu pengembangan bahasa Mandarin di Ubaya. 
“Pemerintah RRT akan menjalin kerjasama dengan Ubaya. Mereka mengirim instruktur bahasa Mandarin untuk memberi pelatihan di Pusat Bahasa Ubaya,” kata Besin Gaspar.
Di sisi lain, pidato dan debat bahasa Mandarin dianggap sebagai forum tepat untuk menguji kemampuan siswa. Seperti SMA Ciputra yang memasukkan hasil pidato muridnya ke dalam nilai rapor.

“Standar International Baccalaureate yang diterapkan di SMA Ciputra tidak memperbolehkan nilai siswa di bawah standar yang ditentukan,” kata guru Bahasa Mandarin SMA Ciputra Jimmy SE.
Standar itu diterapkan pada pelajaran ilmu pengetahuan, bahasa utama (bahasa Indonesia dan Inggris), bahasa asing (bahasa Mandarin), matematika, kesenian, dan sosial.

Tiap siswa, lanjutnya, diberi pilihan untuk tambahan nilai bahasa Mandarin. Yaitu wawancara bersama guru, bermain drama atau mengikuti lomba di luar sekolah. Menurut Jimmy, tidak ada perbedaan penilaian antara siswa yang ikut lomba di luar sekolah dan wawancara dengan guru.
“Semua sama, mereka hanya diuji di sisi keberanian saja. Mampukah mereka mengambil resiko berkenaan dengan kemampuan mereka sendiri,” terang Jimmy.

Bagi Sakti DW Goh dan Indrahaley, murid SMA Ciputra yang mengenal Bahasa Mandarin dari kalangan keluarga, ada beberapa kesulitan yang ditemui ketika belajar bahasa ini.  Kesulitan itu ketika harus belajar menulis huruf Mandarin. ida

Sumber: Surya Online, 5-5-2008