Siapkah Kita Dipimpin Pemimpin yang Bersih, Jujur, dan Sederhana?

SURABAYA, 2 Juli 2014, Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan Seminar Pendalaman Visi - Misi Calon Presiden - Wakil Presiden Ir. H. Joko Widodo - Drs. H. M. Jusuf Kalla tentang "Revolusi Karakter Bangsa." Berlokasi di Hotel Novotel Surabaya, acara ini dimulai pukul 14.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 17.30 WIB.

Sambutan dari Rektor Ubaya, Prof Joniarto Parung menandakan acara ini telah dimulai secara resmi. Pada seminar kali ini, Departemen MKU mengundang tiga pembicara untuk memberikan informasi lebih mendetail seputar visi - misi capres – cawapres bernomer urut dua ini. Mereka bertiga adalah Dr Thamrin Amal Tomagola, Prof Daniel M Rosyid PhD MRINA, dan Ir Hudiyo Firmanto MSc PhD selaku Wakil Dekan Fakultas Teknik Ubaya.

Departemen MKU mengadakan seminar ini dengan tujuan agar semakin memperdalam pengetahuan para peserta seminar terhadap visi dan misi capres - cawapres yang terkenal akan 'Revolusi Mental'-nya ini. Revolusi Mental sendiri terdiri dari dua kata, Revolusi dan Mental. Revolusi berarti perubahan yang berlangsung relatif cepat, dan mental berarti gagasan pikiran maupun sikap yang terwujud melalui tindakan.

"Jika kita melihat, masih ada beberapa orang yang terdoktrinasi oleh ORBA dan beranggapan bahwa pihak sipil tidak bisa menyelesaikan masalah, hanya militer lah yang bisa menyelesaikan masalah. Inilah yang menyebabkan perlu diadakannya Revolusi Mental, agar kita mendetoksifikasi sikap - sikap ORBA dan merubah pemikiran mereka dan membuktikan bahwa kaum sipil juga bisa menyelesaikan masalah," tutur Thamrin selaku pembicara pertama pada kesempatan kali itu.

Selain itu, Daniel M Rosyid juga melanjutkan bahwasanya reformasi juga harus dilakukan di sektor pendidikan, baik sekolah maupun keluarga. Tak sampai di situ, Hudiyo Firmanto juga turut menambahkan betapa pentingnya Revolusi Mental untuk diberlakukan di Indonesia dengan sangat bersemangat serta humoris. Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” ini diakhiri setelah sesi tanya jawab dan diakhiri menyanyikan lagu "Bagimu Negeri."

Menjelang hari pemilihan umum 9 Juli 2014 nanti, marilah kita berpikir bersama – sama, seandainya Jokowi - JK terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, "Siapkah kita untuk dipimpin pemimpin yang bersih, jujur, dan sederhana?" Biarlah pertanyaan itu kita jawab di hati kita masing – masing, dan mari kita semua berharap agar yang terpilih nantinya memberikan masa depan yang lebih baik lagi untuk Negara kita, Indonesia. (dnl)

 

Peran Negara dalam Menjembatani Perekonomian Indonesia

SURABAYA, 5 Juli 2014 di Hotel Novotel berlangsung Seminar Pendalaman Visi-Misi Calon Presiden dan Wakil Presiden H Prabowo Subianto - Ir Hatta Rajasa yang diselenggarakan oleh Departemen MKU Ubaya. Acara dengan judul “Peran Negara Dalam Menjembatani Perekonomian Indonesia” ini dibuka dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” secara khidmat oleh seluruh peserta yang hadir. Selanjutkan disusul dengan sambutan oleh Ketua Departemen MKU-Ubaya DR JM Atik Krustiyati SH MS. Ia mengungkapkan forum yang dilaksanakan tepat 55 tahun dekrit presiden ini diadakan sebagai bentuk sumbangsih penilaian terhadap kedua pasangan Capres-Cawapres.

Acara dipandu oleh akademisi Ubaya Dr Werner Ria Murhadi selaku moderator, Prof Zainudin Maliki perwakilan Tim Ahli Prabowo-Hatta, Akademisi Unair Prof Hotman Siahaan selaku Pakar Politik, serta akademisi Ubaya Hery Pratono SE MDM selaku Pakar Ekonomi. Prof Zainudin Maliki sebagai pembicara pertama mengungkapkan harapannya agar pasangan Capres-Cawapres nomor urut satu tersebut melakukan reformasi UNAS yang menurutnya hanya menimbulkan kesenjangan.

“Education but not educated, itulah cermin pendidikan Indonesia selama ini. Sehingga sejauh ini tidak memiliki nilai tambah dalam perekembangan Indonesia. Contohnya, amat banyak sarjana ekonomi di negeri ini, tapi nyatanya tidak otentik. Indonesia ibarat mempunyai banyak cawan berisi emas, berlian, dll. Tapi kebanyakan cawan tersebut bocor ke tangan negara lain. Oleh karena itu sistem evaluasi pendidikan yang masih terpaku pada UNAS harus dirubah. Jika tidak, keinginan Jokowi yang mengutamakan pendidikan karakter juga akan sia-sia“, ungkapnya.

Berbeda dengan Prof Hotman Siahaan yang cenderung membahas visi dan misi tentang perekonomian yang diusung pasangan nomor urut satu tersebut. Menurutnya, Prabowo yang merupakan putra Sumitro Djojohadikusumo Menteri Keuangan Republik Indonesia era Soekarno terlalu ambil resiko bila ingin mengurangi pinjaman Luar Negeri menjadi nol pada tahun 2019. Ia menambahkan UMKM juga harus lebih diurus jika AFTA dimulai. Sementara Hery Pratono SE MDM menganggap bahwa program ekonomi yang diusung Prabowo-Hatta mainstream, karena mengukur kesejahteraan berdasar pendapatan perkapita. Program yang diusung juga menurutnya sudah ada semua, hanya saja tingkat keefektifitasannya perlu ditingkatkan.

Berlanjut dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hingga mencapai tiga sesi. Diskusi menjadi makin hangat ketika membahas program renegosiasi kontrak pertambangan yang merupakan salah satu program Prabowo-Hatta. Serta pembahasan soal program pendirian kilang yang banyak ditentang oleh mafia migas. Forum netral tersebut ditutup dengan pembacaan puisi Sie Hok Gie oleh moderator, menyanyikan lagu “Bagimu Negeri”, dan akhirnya diakhiri dengan buka bersama oleh seluruh peserta. (res)