Thamrin Tamagola: Jokowi bukan Pemimpin "Omdo"

Surabaya (Antara Jatim) - Prof Dr Thamrin Amal Tamagola selaku tim perumus visi dan misi Capres Joko Widodo, menegaskan bahwa Jokowi bukan pemimpin bertipe "omdo" atau omong doang (hanya bicara, red), karena dia merupakan pemimpin sipil dari pedagang kecil, berangkat dari bawah, dan tidak suka bicara.

"Jadi, dia bukan pemimpin ujug-ujug atau instan yang lahir dari kalangan bisnis, militer, atau tokoh pergerakan, tapi pedagang kecil di bidang mebel, rakyat jelata, dan mengawali karier dari Wali Kota Solo," katanya dalam bedah visi misi capres yang digelar Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya), Rabu petang.

Dalam seri bedah visi misi capres bertajuk "Revolusi Karakter Bangsa" yang juga menampilkan Prof Dr Daniel M Rosyid (pemerhati pendidikan/ITS) dan Dr Hoediyo Firmanto (pemerhati pendidikan/Ubaya) itu, sosiolog UI itu menjelaskan tampilnya Jokowi sendiri merupakan revolusi mental, karena kalangan sipil selama ini dianggap tidak bisa apa-apa.

"Pola pikir bangsa Indonesia selama ini memang memandang bahwa hanya kalangan militer yang bisa menjadi presiden, pengusaha, dan bahkan tokoh pergerakan juga selalu dilihat dari asal usul orang tua yang militer, padahal kalangan sipil itu bukan hanya bisa menjadi pemimpin, tapi pemimpin yang punya nurani dan mampu merasakan nasib rakyat," katanya.

Apalagi, katanya, Jokowi berasal dari bawah dan kalangan rakyat jelata yang kebetulan sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas, karena itu dikotomi sipil-militer harus dibongkar dari pola pikir bangsa Indonesia bahwa kalangan sipil juga bisa memimpin, apalagi dia berproses dari bawah yang tidak instan.

"Saat ini, kepala daerah yang seperti itu juga sudah banyak, seperti Gubernur Sulsel yang berasal dari sekretaris lurah, Bupati Jembrana (Bali), Wali Kota Solo yang berasal dari pedagang kecil (mebel), Wali Kota Surabaya yang berasal dari akademisi, dan banyak lagi contoh kepala daerah dari sipil yang baik," katanya.

Ia menilai para kepala daerah atau pemimpin yang baik itu memiliki "TERRIFIC Character" yakni trust (T), empaty (E), respect (R), responsibility (R), integrity (I), fairness (F), innovative (I), dan commitment (C).

"Nilai-nilai itulah yang membuat orang seperti Jokowi akan melakukan Revolusi Mental. Sebenarnya, revolusi mental itu bisa dilakukan dalam kurun waktu 75 tahun, tapi Jokowi akan bisa mempercepat dalam kurun 10 tahun karena dia menjadi pemimpin yang tidak 'omdong'," katanya.

Seri bedah visi misi capres selanjutnya dengan tim perumus visi dan misi Prabowo Subianto yakni Dr Didik Rachbini akan digelar Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya) pada Sabtu (5/7). (*)

Sumber: http://www.antarajatim.com


Thamrin: Jokowi Akan Percepat Revolusi Mental

Surabaya, KabarGress.Com – Tim perumus visi dan misi Capres Joko Widodo, Prof Dr Thamrin Amal Tamagola, menegaskan Jokowi bukan pemimpin “omdo” atau omong doang (hanya bicara, red). Karena itu Jokowi jika terpilih menjadi presiden ke 7 kelak, maka akan melakukan revolusi mental dalam waktu singkat. “Sebenarnya, revolusi mental itu bisa dilakukan dalam kurun waktu 75 tahun, tapi Jokowi akan bisa mempercepat dalam kurun 10 tahun karena dia menjadi pemimpin yang tidak ‘omdong’,” tandasnya di sela-sela acara bedah visi misi capres yang digelar Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya), Rabu (2/7/2014).

Revolusi mental dilatarbelakangi Jokowi merupakan pemimpin sipil dari pedagang kecil, berangkat dari bawah, dan tidak suka bicara. Jadi, dia bukan pemimpin ujug-ujug atau instan yang lahir dari kalangan bisnis, militer, atau tokoh pergerakan, tapi pedagang kecil di bidang mebel, rakyat jelata, dan mengawali karier dari Wali Kota Solo. “Nilai-nilai itulah yang membuat orang seperti Jokowi akan melakukan Revolusi Mental,” tandas Thamrin.

Menurutnya, pola pikir bangsa Indonesia selama ini memang memandang bahwa hanya kalangan militer yang bisa menjadi presiden, pengusaha, dan bahkan tokoh pergerakan juga selalu dilihat dari asal usul orang tua yang militer, padahal kalangan sipil itu bukan hanya bisa menjadi pemimpin, tapi pemimpin yang punya nurani dan mampu merasakan nasib rakyat.

Terlebih, lanjut Thamrin, Jokowi berasal dari bawah dan kalangan rakyat jelata yang kebetulan sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas, karena itu dikotomi sipil-militer harus dibongkar dari pola pikir bangsa Indonesia bahwa kalangan sipil juga bisa memimpin, apalagi dia berproses dari bawah yang tidak instan.

“Saat ini, kepala daerah yang seperti itu juga sudah banyak, seperti Gubernur Sulsel yang berasal dari sekretaris lurah, Bupati Jembrana (Bali), Wali Kota Solo yang berasal dari pedagang kecil (mebel), Wali Kota Surabaya yang berasal dari akademisi, dan banyak lagi contoh kepala daerah dari sipil yang baik,” ujarnya.

Ia menilai para kepala daerah atau pemimpin yang baik itu memiliki “TERRIFIC Character” yakni trust (T), empaty (E), respect (R), responsibility (R), integrity (I), fairness (F), innovative (I), dan commitment (C).

Seri bedah visi misi capres bertajuk “Revolusi Karakter Bangsa” yang juga menampilkan Prof Dr Daniel M Rosyid (pemerhati pendidikan/ITS) dan Dr Hoediyo Firmanto (pemerhati pendidikan/Ubaya) itu, sosiolog UI itu menjelaskan tampilnya Jokowi sendiri merupakan revolusi mental, karena kalangan sipil selama ini dianggap tidak bisa apa-apa.

Sementara itu, seri bedah visi misi capres selanjutnya dengan tim perumus visi dan misi Prabowo Subianto yakni Dr Didik Rachbini akan digelar Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya) pada Sabtu (5/7). (ro)

Sumber: http://kabargress.com


Thamrin Tamagola: Jokowi Bukan Pemimpin "Omdong"

RIMANEWS- Tim perumus visi dan misi capres Joko Widodo (Jokowi), Prof Dr Thamrin Amal Tamagola menegaskan bahwa Jokowi bukan pemimpin bertipe "omdong" (omong doang atau hanya bicara), karena dia merupakan pemimpin sipil dari pedagang kecil, berangkat dari bawah, dan tidak suka bicara.

"Jadi, dia bukan pemimpin ujug-ujug atau instan yang lahir dari kalangan bisnis, militer, atau tokoh pergerakan, tapi pedagang kecil di bidang mebel, rakyat jelata, dan mengawali karir dari Wali Kota Solo," katanya dalam bedah visi misi capres yang digelar Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya), Rabu (2/7) petang.

Dalam seri bedah visi misi capres bertajuk "Revolusi Karakter Bangsa" yang juga menampilkan Prof Dr Daniel M Rosyid (pemerhati pendidikan/ITS) dan Dr Hoediyo Firmanto (pemerhati pendidikan/Ubaya) itu, sosiolog UI itu menjelaskan tampilnya Jokowi sendiri merupakan revolusi mental, karena kalangan sipil selama ini dianggap tidak bisa apa-apa.

"Pola pikir bangsa Indonesia selama ini memang melihat hanya kalangan militer yang bisa menjadi presiden, pengusaha, dan bahkan tokoh pergerakan juga selalu dilihat dari asal usul orang tua yang militer, padahal kalangan sipil itu bukan hanya bisa menjadi pemimpin tapi pemimpin yang punya nurani dan mampu merasakan nasib rakyat," ujarnya.

    Apalagi, katanya, Jokowi berasal dari bawah dan kalangan rakyat jelata yang kebetulan sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas, karena itu dikotomi sipil-militer harus dibongkar dari pola pikir bangsa Indonesia bahwa kalangan sipil juga bisa memimpin, apalagi dia berproses dari bawah yang tidak instan.

"Saat ini, kepala daerah yang seperti itu sudah banyak, seperti Gubernur Sulsel yang berasal dari sekretaris lurah, Bupati Jembrana (Bali), Wali Kota Solo yang berasal dari pedagang kecil (mebel), Wali Kota Surabaya yang berasal dari akademisi, dan banyak lagi contoh kepala daerah dari sipil yang baik," paparnya.

Ia menilai para kepala daerah atau pemimpin yang baik itu memiliki "TERRIFIC Character" yakni 'trust' (T), 'empaty' (E), 'respect' (R), 'responsibility' (R), 'integrity' (I), 'fairness' (F), 'innovative' (I), dan 'commitment' (C).

"Nilai-nilai itulah yang membuat orang seperti Jokowi akan melakukan Revolusi Mental. Sebenarnya, revolusi mental itu bisa dilakukan dalam kurun waktu 75 tahun, tapi Jokowi akan bisa mempercepat dalam kurun 10 tahun karena dia menjadi pemimpin yang tidak 'omdong'," tukasnya.

Bahkan, Jokowi akan melakukan revolusi dengan menata enam lembaga dalam masyarakat yakni keluarga, sekolah, kelompok bermain (komunitas), rumah-rumah ibadah, media, dan pejabat publik yang memberi teladan, sehingga keenam lembaga itu akan berfungsi secara benar.

Dalam kesempatan itu, pemerhati pendidikan dari ITS Prof Dr Daniel M Rosyid menyetujui jika revolusi karakter bangsa dimulai dengan mengembalikan fungsi pendidikan kepada keluarga, bukan sekolah, karena sekolah sudah terbukti gagal dalam mendidik karakter, terutama empat karakter yakni jujur, setia, peduli, dan cerdas.

"Karena itu, saya lebih setuju jika perhatian kepada keluarga lebih besar daripada anggaran untuk sekolah. Saya setuju ada tunjangan untuk ibu menyusui, ibu hamil, modal untuk rumah tangga yang berfungsi edukatif, dan modal rumah untuk fungsi produktif," ucapnya.

Sementara itu, pemerhati pendidikan dari Ubaya Dr Hoediyo Firmanto mendukung Revolusi Mental, karena cara-cara berpolitik sekarang saling menyerang itu memuakkan dan tidak menunjukkan sebagai orang Indonesia.

"Saya percaya Pak Jokowi akan mampu, karena modalnya sudah ada, yakni dia dikelilingi orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, seperti Anies Baswedan, Dahlan Iskan, dan banyak lagi," tuturnya.

Seri bedah visi misi capres selanjutnya dengan tim perumus visi dan misi Prabowo Subianto yakni Dr Didik Rachbini akan digelar Departemen Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Surabaya (Ubaya) pada Sabtu (5/7).

Pilpres 2014 yang berlangsung pada 9 Juli akan diikuti dua pasangan calon yakni Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. (lil/ant)

Sumber: http://www.rimanews.com