Lemahnya kondisi pendidikan di Indonesia mendorong Program Studi Magister Sains Fakultas Psikologi (FP) Ubaya untuk mengadakan Seminar Pendidikan “Inovasi Pembelajaran” pada 14 Desember 2013 lalu. Bertempat di ruang serbaguna FP Ubaya, seminar ini dihadiri oleh guru-guru dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dr Moeljadi Pranata selaku narasumber dan pembicara, Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Malang ini mengungkapkan bahwa dunia yang mengalami perubahan harus diikuti dengan kurikulum baru, seperti yang saat ini tengah dilakukan pemerintah melalui kurikulum 2013. Namun kurikulum berbasis kompetensi ini tidak banyak memberikan perubahan, walaupun kurikulumnya berubah, pembelajaran di sekolah belum berubah, dan sistem penilaiannya tetap sama, hal ini kemudian menimbulkan masalah. “Banyak siswa yang pintar tapi tidak dapat menerapkan materi pelajaran dalam dunia nyata. Materi saja tidak cukup, karena yang dibutuhkan adalah siswa yang mampu menavigasi perubahan,” tuturnya.

Masalah pendidikan yang kompleks adalah akibat dari kurikulum yang dibuat asal-asalan, lemahnya karakter bangsa, kualifikasi guru yang rendah, dan tidak adanya perubahan mindset mengenai pendidikan. “Siswa jangan hanya diberikan pengetahuan tapi juga kompetensi yang lebih penting, lebih bagus lagi kemampuan transfer, yaitu kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki di bidang lain,” kata pria yang telah menjadi guru sejak tahun 1975 ini.

Dipenghujung sesi, Moeljadi menambahkan,“Terdapat kata kunci dalam pendidikan Indonesia, yaitu mandiri, efektif dan inovatif. Untuk mewujudkannya diperlukan pembelajaran yang inovatif yang dapat dihantarkan dengan metode pembelajaran entrepreneurial.”

Anindito Aditomo PhD, Dosen Fakultas Psikologi Ubaya, yang juga menjadi pembicara turut mengomentari mengenai pengaruh teknologi pada pendidikan. “Saat ini sangat sedikit guru yang memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran. Yang terjadi adalah efisiensi pekerjaan dan bukan perubahan,” ujarnya. Pria kelahiran Jawa Tengah ini juga menyimpulkan bahwa teknologi bukanlah untuk diajarkan, namun bagian dari konteks pembelajaran. Inovasi pembelajaran menggunakan teknologi untuk menciptakan komunitas pengetahuan. (mgl/wu)